Senin, 24 November 2014

domino, tak seburuk yang dikira



Domino
Ajang Sosialisasi Sekaliguh Asah Otak Di Ranah Minang

 

Sebagian orang menganggap bahwa permainan ini hanya buang-buang waktu dan tidak berguna, bahkan mereka mengklaim bahwa Domino hanya dilakukan oleh mereka yang tidak punya pekerjaan alias malas. Pendapat ini sering dilontarkan oleh kaum wanita. Sebaiknya pendapat ini harus dikoreksi lagi, karena terdapat banyak nilai-nilai adat dan budaya Minang yang terkandung dalam permainan ini.

Permainan Domino biasanya dilakukan di sore hari. Tempatnya pastilah di Lapau (kedai). Secara etimologi Domino sendiri bukanlah sebuah kata yang berasal dari bahasa Indonesia atau Minangkabau, melainkan bahasa Latin : Dominus, yang berarti Raja atau Tuan. Menariknya lagi, kata Domino justru berasal dari nama topeng-topeng yang dipakai pada saat karnaval di Venezia, Domini. Domini ini berwarna putih dan dihiasi oleh titik-titik hitam. Tidak jauh berbeda dengan yang dimainkan sekarang, tapi Domino yang umum dimainkan di Minangkabau, adalah yang berbentuk batu. Bukan yang dari bahan kertas (Gaple). Meski begitu, ada yang berpendapat bahwa Domino berasal dari China. Yang jelas permainan Domino sudah ada sejak zaman dahulu, tanpa diketahui siapa yang menemukan permainan yang amat digemari kaum pria dalam masyarakat tradisional Minang.
Menurut Wikipedia, Domino diperkenalkan pertama kali oleh orang India, yang kemudian menyebar ke China. selanjutnya orang China pula yang meyebarkannya hingga ke daratan Eropa sana. Domino tertua diperkirakan dibuat tahun 1120 Masehi yang di ukir pada gading atau tulang. Kapan Domino dimainkan pertama kali di Ranah Minang? Tak ada yang tahu.
Disetiap daerah, jenis permainan Domino sangat bervariasi, namun yang paling kita temui adalah Main Mandan (team) dan Main Simpang Empat ( individual). Dalam permainan tipe Mandan, kerja sama team adalah kunci kemenangan. Kesuksesan bergantung pada seberapa besar seorang pemain bisa membaca situasi batu lawan dan batu Mandannya. Kadang kala seorang pemain harus berkorban demi Mandan, sebab keegoisan akan menyebabkan kekalahan.
Tidak seperti Catur dan Ceki (Koa) yang membutuhkan waktu lama dalam satu babaknya, Domino bisa dimainkan dengan tempo cepat oleh empat orang sekaligus. Hanya beberapa menit, satu babak permainan dapat diselesaikan. Cara mainnya pun amat sederhana, para pemain yang duduk melingkar, diharuskan untuk menurunkan satu kartu tiap putarannya, sesuai dengan ditawarkan oleh pemain sebelumnya sesuai dengan urutan yang tersaji di kedua belah sisi. Jika pemain tidak memiliki kartu yang ditawarkan, maka pemain berikutnyalah yang melanjutkan, hingga siapa yang paling cepat menghabiskan kartu atau batu, dialah yang menang dalam permainan yang menggunakan satu set kartu berjumlah 28 biji ini. Kartu tersebut dibagi rata menjadi 7 kepada tiap peserta.
Dalam permainan ini, selain kekuatan daya ingat dan kecerdasan otak, mental juga merupakan hal yang penting. Seringkali pihak yang kalah akan di ejek oleh pihak yang menang. Karena itulah dibutuhkan mental yang kuat agar tidak emosi. Ada pameo yang mengatakan,” kalau ndak suko digalak an, lalok se lah di rumah, jan ka lapau lo,”  artinya kalau tidak suka ditertawakan, tidur saja di rumah dan jangan pergi ke lapau. Satu lagi, watak seseorang juga dapat dilihat dari caranya melakukan permainan ini. Orang yang ragu-ragu atau bimbang, biasanya akan lebih memerlukan waktu lebih lama dalam menurunkan sebuah batu. Sebaliknya, orang yang otaknya encer tidak membutuhkan waktu yang lama bahkan mungkin bisa menebak kartu yang ditwarkan lawan. Jadi, ini adalah permainan yang biasa dilakukan oleh pria-pria cerdas.
Karena itu, di samping sebagai permainan menghabiskan sore hari, Domino juga mampu membuat mental seseorang kebal terhadap ejekan. Selain itu, Domino juga menjadi ajang sosialisasi antar masyarakat, tapi juga menjadi bagian dari kebudayaan Minangkabau yang lebih mengutamakan otak daripada tenaga. Jadi jangan dianggap permainan ini hanya dilakukan oleh orang pemalas.


.
.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar