Minggu, 07 Desember 2014

kue cangkiang, antara sejarah dan perkembangannya



Industri Khas Kue Cangkiang
Tak Lama Lagi, Mungkin Akan Punah

Kue Karambia Bagulo dan Kue Sakura

Sebenarnya, jika dilihat dengan seksama, Kue ini mungkin lebih tepat disebut dengan kerupuk. Tapi kasus salah identifikasi atau kesalahan ejaan lokal yang membuat indutri skala rumah tangga ini disebut dengan Kue Cangkiang. Industri kecil ini berlokasi di Jorong Cangkiang, Kenagarian Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek. Batu Taba merupakan salah satu wilayah utama yang menjadi sentra produksi kain tekstil di Agam. Tak terhitung banyaknya masyarakat di sini yang memasarkan hasil produksinya ke Pasar Grosir Aur Kuning Bukittinggi. Tapi, sebuah anomali terjadi di Jorong Cangkiang, masyarakat lokal disana tidak ada yang mengolah kain jadi. Tapi mereka lebih memilih untuk mengolah sejenis makanan untuk diproduksi. Saat ini, ada sekitar 10 macam jenis kue kering yang dihasilkan. Baik itu dari bahan beras, maupun pulut ketan dan dijual ke pasar regional terdekat.
Usaha ini, sudah sejak lama dibuat. Diperkirakan sudah ada berkisar antara tahun 1850-1870 Masehi, hal ini dibuktikan dengan pengakuan orang tertua di Jorong Cangkiang (Enek Ama) yang mendapati usaha ini sudah digeluti oleh Neneknya sejak masa silam. Enek Uniang, begitulah nama penemu kue renyah ini. Sepulang dari Mekkah, entah mendapat inspirasi dari mana, Ia menemukan  bermacam resep yang kemudian diolah hingga berbentuk seperti saat sekarang ini. Resep itu Ia beri nama dengan Kue Jari (yang pertama kali ditemukan), Kue Dorong, Kue Roti Kariang, Kue Ranjau, Kue Sakura, Kue Pulut Panggang, Kue Arai Pinang dan Kue Karambia. Saat ini, Kue Jari yang asli sudah tidak diproduksi lagi karena pembuatannya yang rumit . meski demikian, info terakhir menyebutkan masih ada beberapa keluarga yang memproduksinya.
 Pada masa itu, segala jenis kue itu belum menggunakan pemanis, masih hambar dan tawar rasanya. Kue-kue itu diproduksi dengan bantuan berbagai alat cetak dari tempurung kelapa, gelang bambu dan  papan kayu yang diukir. 
Enek Uniang ini berasal dari suku Pili, kuburannya ada di dalam bilik bangunan yang ada di “ Tampaik”. ( dalam bilik ini, hanya ada satu pusara saja, bukan yang di ruang tengahnya. Maaf, saya tidak berani mengambil foto pusara ini. bangunan tersebut,  konon dahulunya berfungsi sebagai surau). Jadi, boleh diartikan bahwa suku Pili ( yang dari rumah gadang Da Baih) lah yang pertama kali mempopulerkan kue kita ini. Sedikit catatan, nama kue Ranjau dan Sakura terinspirasi dari zaman pendudukan Jepang.
Dari Enek Uniang inilah, usaha ini kemudian menyebar di sekeliling kampung dan menjadi sumber mata pencaharian lokal. Pada dekade tahun 80-an yang lalu, hampir setiap rumah memproduksi kue ini. Namun, di masa sekarang para pembuat kue tradisional ini bisa dihitung dengan jari saja. Sulitnya masalah pemasaran ditambah minimnya minat generasi muda melanjutkan usaha purba ini, kian memperburuk keadaan. Persoalan itu kian bertambah akibat naiknya harga BBM berimbas langsung ke industri Kue Cangkiang. Bahan olahan dari kue ini, terdiri dari telur, beras, pulut, dan beberapa resep rahasia lainnya.
Sayang, harganya tak segurih rasanya. 1 Kg Kue Cangkiang bisa berharga Rp, 60.000 yang dari bahan pulut. Harganya ini pula yang membuat Kue Cangkiang ini kurang diminati oleh masyarakat.
Daru tahun ke tahun, usaha ini dapat terus bertahan. Tapi, tak lama lagi akan segera hilang karena generasi masa sekarang sudah kehilangan minat untuk meneruskan usaha ini. Makin hari, makin sedikit peminat usaha ini. Persoalan kian menjadi sulit, karena para pembuat kue ini memakai sistem pemasaran secara sendiri tanpa organisasi sehingga, gaungnya kalah jauh dari Sanjai Bukittinggi meski soal rasa, Kue Cangkiang tak kalah.
Promosi yang mumpuni, itulah kekurangan dari usaha ini walaupun ada gerakan kelompok binaan dari Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Agam. Nyatanya tak banyak juga orang yang mengenal Kue Cangkiang yang penuh historis ini.

4 komentar:

  1. Koreksi sedikit ya Pak Penulis, itu gambar kue sakura bukan kue dorong.

    BalasHapus
  2. alah ambo tuka t pak komen...sory

    BalasHapus
  3. Kue enak saat ini lebih sulit dijumapai sebagai jajanan kita medan par par

    BalasHapus
  4. kue nan lamak, amuah baraja lo wak buek e pak

    BalasHapus