Selasa, 09 Desember 2014

saka bukik batabuah



Saka Bukik Batabuah
Ketika “Kabau Minang Dikalahkan Kabau Japang”

petani saka tradisional

Jika memandang Gunung Marapi dari arah Bukittinggi, akan kelihatan warna hijau muda seperti rerumputan yang memenuhi lereng gunung tertinggi di Luhak Nan Tigo ini. Tapi, itu bukanlah rumput, itu adalah ladang tebu. Sari dari tebu itu kemudian akan diolah menjadi Saka oleh penduduk setempat.
Mengolah Saka, merupakan aktifitas keseharian dari masyarakat Kenagarian Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang. Hampir 80% dari total penduduk memanfaatkan kesuburan dari tanah gunung dengan menanami tebu.
Luas lahan ladang tebu ini sangat fantastis, sekitar 1087 Ha. Karena itu, kawasan ini menjadi salah satu sentra utama dari produksi Saka di Sumatera Barat. Mengolah tebu menjadi gula saka, bukanlah proses yang mudah. Untuk satu batang tebu saja diperlukan proses yang berbelit-belit. Bayangkan saja, sebelum tebu ini dikilang, petani harus terlebih dahulu memilih tebu yang siap untuk digiling, kemudian menebangnya. Setelah menebangnya, batangan tebu tersebut harus dipikul sendiri dengan berat puluhan kilo menuju tempat pengilangan. Letak ladang itu sendiri berada di lereng-lereng curam yang memberatkan langkah, belum lagi kulit tebu itu penuh dengan miang yang bisa menyebabkan kulit menjadi gatal.
Sangat berat sekali proses mengolah Saka ini, setelah tebu ini sampai di gubuk pengilangan, lalu dibersihkan dan dipotong-potong untuk kemudian diperas airnya. Bagian ini merupakan hal yang paling menarik untuk dilihat, proses memeras sari tebu ini umumnya masih menggunakan tenaga kerbau. Dengan mata tertutup kain berwarna gelap, kerbau itu berjam-jam berjalan melingkari kilangan. Mata kerbau itu harus ditutup agar Binatang khas Sumatera Barat ini tidak pusing akibat berputar-putar. Diawasi oleh petani saka, kerbau itu secara perlahan menarik tuas kayu yang tersambung ke alat pemeras tebu. Sari tebu yang sudah ditampung itu, kemudian akan dimasak dan diaduk dalam kuali dengan api yang besar. Setelah masak, dibiarkan hingga mengental.
Proses ini masih berlanjut, sari tebu yang mengental itu akan berwarna kecoklatan. Ini yang disebut oleh penduduk lokal sebagai “Tangguli” atau manisan. Proses melelahkan ini memakan waktu hingga tiga hari. Setelah selesai, kemudian diolah lagi dan dibentuk dengan batok kelapa khusus sehingga kemudian menjadi gula saka serta siap untuk dipasarkan. Tak dapat dipungkiri, gula saka ini sudah menjadi bagian pokok dari berbagai kuliner. Rasa manis alami meberikan sentuhan beraroma khusus pada banyak makanan tradisional di Minangkabau.
Meski kebanyakan masih menggunakan pola tradisional, ada juga kelompok tani yang sudah memanfaatkan teknologi untuk memperbanyak produksi. Seperti kelompok tani Guguak Pili. Kelompok tani yang dikepalai oleh Uda Ril ini, sudah memakai pola modern dengan memakai mesin peras tebu berukuran besar. Kapasitas produksi dari mesin ini mampu berkali lipat hasilnya dari pada menggunakan tenaga kerbau.” Meski kami bisa memproduksi secara besar, tapi kami masih saja tetap kesulitan dalam memasarkannya,” ujar Uda Ril.
Pemasaran memang menjadi kendala tersendiri dalam usaha ini, saat ini harga perkilo masih berkisar Rp,7.500 saja. Idealnya harga Saka ini berkisar diantara Rp,15.000an. Tak hanya harga saja yang diharapkan segera naik, Uda Ril juga berharap agar pasar tempat Saka ini didistribusikan tidak lagi dikuasai oleh tengkulak sehingga harga Saka dapat terus stabil.
Sementara itu, Wali Nagari Bukik Batabuah Masdi War SP.Di juga mengakui bahwa perhatian dari Pemerintah terhadap usaha ini amat mengesankan. Meski demikian, Wali Nagari juga prihatin melihat usaha ini kurang diminati oleh generasi muda, sehingga bisa saja usaha Saka ini dapat hilang dari Nagari Bukik Batabuah suatu saat nanti.
Penggunaan mesin besar berkapasitas tinggi dari Jepang ini, tentunya berdampak terhadap usaha tradisional menggunakan tenaga kerbau. Keberadaan kerbau untuk mengilang ini, tinggal menghitung hari.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar