Sabtu, 24 Januari 2015

museum tridaya eka dharma



Museum Perjuangan Tridaya Eka Dharma
museum tridaya eka dharma dengan koleksi pesawat tempurnya

Selain tempat wisata keluarga, Kota Bukittinggi juga memiliki tempat yang memiliki nilai sejarah. Terdapat sebuah museum yang menjadi sarana komunikasi antara generasi dijadikan sebagai warisan nilai-nilai perjuangan 1945. Tempat tersebut bernama Museum Tri Daya Eka Dharma.
Didalam museum ini dapat disaksikan peninggalan sejarah tempo dulu, seperti pesawat, senjata, alat komunikasi serta foto-foto perjuangan pada melawan penjajah Belanda dan Jepang. Museum ini berlokasi di Jalan Panorama nomor 24, Kecamatan guguk panjang, Kelurahan Kayo Kubu, Kota Bukittinggi. Tidak begitu sulit menemukan lokasi museum ini, karena gedung museum ini berada tepat didepan Taman Panorama yang terkenal dengan objek wisata Lobang Jepang nya.

Museum yang memiliki arti tiga unsur kekuatan satu pengabdian atau dalam istilah orang Minang, “Tigo Tungku Sajarangan” ini didirikan berkat prakarsa Bridgjen Widodo yang merupakan salah seorang pimpinan TNI wilayah Sumatera Tengah pada saat itu. Kemudian, gagasan ini dilanjutkan oleh Brigjen Soemantoro pada tahun 16 Agustus 1973, sekaligus meresmikannya sebagai museum.
Kota Bukittinggi dipilih sebagai tempat dibangunnya museum ini karena Kota Bukittinggi adalah Kota perjuangan yang pernah dijadikan ibu kota Provinsi Sumatera dan ibu kota Negara RI ke 3 setelah Jakarta dan Yogyakarta pada saat Pemerintahan Darurat RI. Dahulunya gedung ini merupakan tempat peristirahatan Gubernur Sumatera. Berkat bantuan Pemerintah Daerah Tingkat I Sumatera Barat dan Kodam III/17 Agustus, gedung ini sempat dipugar sebelum diresmikan.
Pertama kalinya, koleksi yang dimiliki museum ini sangat terbatas. Namun seiring dengan berjalannya waktu, koleksinya terus dilengkapi. Saat ini, koleksi utama museum ini terdiri dari beragam alat persenjataan, mulai dari yang tradisional dan modern seperti pistol, senjata laras panjang, senjata mesin serta mortir. Beberapa diantaranya berasal dari hasil rampasan perang pada saat melawaan Belanda dan Jepang. Koleksi lainnya yaitu pesawat pemancar dan penerima radio YBJ 6, pesawat AT 16 Hervard B 419 yang dahulu berfungsi untuk menumpas gerombolan PRRI 1958 di Sumatera Barat. Semua koleksi ditata dengan rapi, baik didalam vitrin maupun diluar vitrin.
Terkhusus untuk pemancar YBJ 6, ini adalah  pemancar yang dibawa rombongan PTT Bukittinggi pada saat perang kemerdekaan ke dua, yaitu pada tahun 1948 sampai 1949. Pesawat ini digunakan oleh Syafroeeddin Prawiranegara sewaktu PDRI  agar dapat terhubung dengan daerah yang ada di Indonesia maupun luar negeri. Terutama dengan India, karena pada saat itu beberapa perwakilan negara berada di New Delhi.
Selain senjata dan pesawat, terdapat foto-foto berupa momen disaat perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Selengkapnya, museum Tri Daya Eka Dharma terdiri dari 103 pucuk senjata api, alat peledak atau amunisi 73/B, 13 jenis alat komunikasi, 1 buah pesawat tempur serta 100 buah foto-foto perjuangan.
Untuk menuju museum ini amatlah mudah, karena letaknya yang persis di depan Ngarai Sianok. Untuk masuk museum, tidak ada tarif khusus yang ditetapkan oleh pengelola. Jadi museum ini amatlah cocok bagi pecinta sejarah.(021/LW)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar