Senin, 02 Februari 2015

gula semut bukik batabuah



Gula Semut,
Produk Lokal Yang Diharapkan Mampu Bersaing
produk khas gula semut

Agam,(LW)
Di tengah kencangnya terpaan berbagai macam produk asing yang menembus pasar Tanah Air, memaksa banyak sekali produk lokal kalah bersaing dan hilang dari peredaran. Untuk dapat bertahan, berbagai produk lokal itu diharuskan membuat banyak inovasi sehingga kehadirannya dapat terus diterima di tengah masyarakat. Salah satunya adalah Produksi Gula Semut di Jorong Batang Silasiah, Kenagarian Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang, Agam.
Atas kerja sama dengan tiga Dosen IAIN Bukittinggi yaitu, Hasneni M.Ag, DR. Silfia dan Susi,  sejak Desember 2014 hingga berakhirnya pelatihan pengolahan itu pada Rabu (28/01) kemarin, masyarakat sekitar berhasil memaksimalkan potensi besar dari tanaman tebu dengan memproduksinya hingga siap dikonsumsi dan dipasarkan berupa produk Gula Semut. Jadi, selain Gula Merah (Saka-red), wilayah yang terletak di lereng Gunung Marapi itu juga punya lagi sebuah produk lokal lainnya.
Gula Semut adalah gula merah berbentuk serbuk, yang punya aroma khas, dan berwarna kecoklatan. Proses pembuatan Gula Merah ini tentunya membutuhkan waktu yang lama, meski demikian, apabila dipasarkan dengan benar maka usaha industri kreatif ini diterima sepenuhnya oleh pelaku pasar.
Terkait hal ini, ketika ditemui Lumbung Wisata di tempat terpisah, pada Kamis (29/01) yang lalu, Kepala Dinas Koperasi Industri Perdagangan Agam, Hadi Suryadi mengatakan,” Kita akan membina usaha Gula Semut ini dan segera akan diusulkan ke tingkat Propinsi  untuk mendapatkan bantuan Packaging (kemasan) dan mesin pengolahan, ini sudah diprogramkan pada tahun 2015 sekarang,”. pungkas Hadi. Meski usaha ini disinyalir dapat berpotensi mengangkat perekonomian masyarakat, namun sepertinya akan terkendala akan  hal pemasaran, karena dijual dengan harga Rp.10.000, per 3 ons. Terkait mahalnya harga ini, Hadi Suryadi menegaskan,” Masalah harga itu, tergantung dari kualitas produk. Kalau produk itu bagus maka wajar harganya tinggi,”.
Tak hanya itu, Hadi Suryadi juga menghimbau agar penggiat usaha yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sakinah dapat terus menjaga kualitas dan kuantinitas dari produksi Gula Semut itu sendiri, dan Ia juga berjanji akan membina usaha industri rumah tangga ini dengan melakukan pembinaan langsung di lapangan.
Sementara itu, Kepala UPT Canduang, Imrefli, juga menghimbau kepada penggiat usaha ini untuk memproduksi produk Gula Semut secara bertahap dan kalau bisa produk ini jangan dijual dengan harga yang mahal. Karena menurut Imrefli, ini masih dalam tahap promosi.
Pada kesempatan itu, Wali Nagari Bukik Batabuah, Masdi War S.Pd.I dalam pernyataannya mengungkapkan,” Dari segi produk, memang bagus. Namun, akan lebih tingkatkan lagi promosi dan sertifikat halalnya, akan segera kita urus,” ujar Masdi War. dalam waktu terdekat, Masdi War berencana untuk memasarkannya lewat Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bukittinggi-Agam.
Tentunya produk potensial seperti ini harus didukung penuh oleh semua pihak yang terkait, karena bagaimanapun, tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi terhadap produk dalam negeri dapat memacu peningkatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Selain itu, kesadaran akan pentingnya mencintai produk dalam negeri merupakan salah satu modal awal untuk menjadi Negara yang maju.(021/LW)

1 komentar: