Selasa, 03 Maret 2015

batagak pangulu bukik batabuah



Batagak Pangulu Bukik Batabuah

Pangulu memiliki peranan yang amat penting dalam kehidupan bermasyarakat di Minangkabau, seorang Pangulu tersebut diharuskan untuk menjadi suri teladan baik untuk kaum maupun kampungnya sendiri. Dewasa ini, beberapa tempat masih ada yang menyelenggarakan prosesi kuno ini. Terutama di wilayah Agam, secara kontinu Kabupaten tetap melewakan Pangulunya sebagai bukti betapa kuatnya adat Minangkabau di Luak ini. Dalam Batagak Pangulu, betapa banyak tahapan yang harus dilalui dalam melangsungkan alek nagari tersebut.
Yang pertama sekali, kita harus tahu alasan kenapa dilakukan acara Batagak Pangulu. Yakni:
1.    Hiduik bakarilahan, maksudnya adalah Pangulu baru harus diangkat karena Pangulu yang lama sudah terlalu uzur, terkena penyakit atau tak sanggup lagi menjalankan fungsinya.
2.    Mati Batungkek budi, Pangulu harus diangkat dikarenakan Pangulu lama sudah meninggal dan harus digantikan.
3.    Mambangkik batang tarandam, hal ini dimaksudkan untuk mengangkat kembali Pangulu yang baru, setelah sebelumnya sudah lama tidak ada Pangulu.
4.    Mangambangkan nan talipek, mengangkat kembali gelar yang sudah lama tidak terpakai karena terputusnya gelar warisan dari laki-laki.
5.    Manurunkan nan tagantuang, mengangkat kembali Pangulu dikarenakan pangulu yang lama masih kecil.
Hal-hal yang diataslah yang menjadi penyebab mengapa seorang Pangulu itu harus diangkat, kemudian barulah dimulai istilah “ Manakok ari” atau menentukan hari berlangsungnya prosesi untuk menyematkan “Gala”. Batagak Pangulu ini, mempunyai biaya yang amat besar, bisa berkisar puluhan juta.  karena itu, tak semua kaum atau wilayah mampu menyelenggarakan event ini. Seperti yang penulis lihat di Kanagarian Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang. Wilayah yang amat luas ini baru saja menghelat peristiwa akbar Batagak Pangulu, sebelumnya Bukik Batabuah terakhir kali melaksanakan prosesi ini pada tahun 1966. Sudah 49 tahun berselang lamanya. Oleh sebab itu, perantau-perantau Bukik Batabuah tersebut pulang ke kampung halaman untuk menyaksikan peristiwa teramat langka ini.
Bagi penulis sendiri, Batagak Pangulu ini pun baru pertama kali dilihat. Itupun hanya pada hari puncaknya saja, sedangkan proses batagak pangulu ini memakan waktu yang berhari-hari. Ribuan masyarakat hadir menyaksikan acara ini, semua orang itu berpakaian adat, yang kaum ibu juga demikian. Sebuah pemandangan luar biasa rasanya melihat banyak orang berpakaian adat.
Disaksikan oleh Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno dan Bupati Agam Indra Catri, sebanyak 23 Pangulu yang berasal dari Suku Sikumbang dan Pisang dilewakan galanya dan berhak menyandang status pemimpin tertinggi dari kaumnya di Kanagarian Bukik Batabuah, Kecamatan Canduang.“ Saya selaku Gubernur, amat bangga dengan Kabupaten Agam sebagai salah satu wilayah yang banyak melakukan kegiatan Batagak Pangulu ini,” ujar Irwan Prayitno. Gubernur Sumatera Barat itu juga menambahkan bahwa Alek Nagari  ini menjadi bukti bahwa sistem kekerabatan adat dan budaya ini terpelihara dengan baik di wilayah tersebut. 
Sementara itu, Bupati Agam, Indra Catri Dt Malako Nan Putiah juga mengatakan bahwa pengangkatan 23 orang Pangulu ini akan menjadi sejarah besar bagi Kenagarian Bukik Batabuah, serta Indra Catri juga berharap agar pelantikan para Pangulu ini dapat mempermudah dalam mengatur kehidupan bermasyarakat,” Pangulu ini diharuskan bertindak sebagai Agent of Change yang akan terlibat dalam penyelesaian konflik di tengah masyarakat, semakin banyak Pangulu yang kita miliki maka semakin baik pula kualitas nagari kita,” tutup Indra Catri.
Karena peristiwa besar seperti ini tergolong amat langka bagi masyarakat daerah tersebut, maka antusiame luar biasa ditunjukkan oleh warga dengan hadir secara beramai-ramai memadati Lapangan Medan Nan Bapaneh Gobah tempat para Pangulu itu disumpah dan dilantik oleh pemuka kaum.
Selain itu, para perantau Bukik Batabuah pun ikut pulang dalam menyaksikan peristiwa besar ini sehingga acara tersebut tergolong amat sukses dilaksanakan.Tentunya penyelenggaraan event berskala besar ini membutuhkan persiapan yang amat matang, terkait hal ini, Wali Nagari Bukik Batabuah, Masdiwar S.PDi mengatakan,”  Acara ini sudah dipersiapkan sejak 5 bulan yang lalu dan dananya berasal dari iuran dari kaum, para Pangulu ini nantinya akan berfungsi sebagai mitra Pemerintah dalam menyelesaikan berbagai konflik,” ujar Masdiwar.
Bupati Agam Indra Catri dan Wali Nagari Bukik Batabuh Masdiwar
23 Pangulu yang dilewakan ini terdiri 11 Pangulu Pucuak dan 12 Pangulu Panungkek dengan rincian sebanyak, 5 Pangulu Pucuak dan 6 Pangulu Panungkek untuk Suku Pisang serta 6 Pangulu Pucuak dan 6 Pangulu Panungkek untuk Suku Sikumbang.
Sementara itu, salah seorang Pangulu Pucuak yang dilantik, Fikon S.Pt yang bergelar Datuak Sati dari Suku Sikumbang mengatakan bahwa untuk kedepannya, Ia akan melakukan pembinaan terhadap anak dan kemenakannya baik dalam hal pendidikan, peningkatan ekonomi maupun dalam hal pembinaan mental. Namun terlebih dahulu Datuak Sati akan mendata terlebih dahulu jumlah anak dan kemnenakannya tersebut,” Yang paling penting dilakukan adalah melakukan database terlebih dahulu, kemudian baru bisa kami melakukan berbagai hal dalam melakukan peningkatan,” ujar Datuak Sati yang juga merupakan Komisioner KPU Sumbar itu. Selain itu, bersama Pangulu Panungkek atau perwakilannya, Fikon juga membagi tugas dan fungsinya untuk membina anak dan kemenakannya baik yang di Nagari maupun yang di Rantau.
ternyata, juga ada bule, siapakah dia?
Menjadi Pangulu itu merupakan amanah yang harus diemban oleh para tokoh-tokoh terpilih tersebut, sesuai dengan pepatah Minang, elok tapian dek nan mudo, elok nagari dek pangulu. Untuk itu, fungsi dan peran serta para Pangulu ini dalam kehidupan bermasyarakat amatlah sentral sehingga diharapkan agar 23 Pangulu ini dapat menjadi pedoman bagi kaumnya

Yang lagi khusuk berdoa itu, Pak Im sutan Malano


Tidak ada komentar:

Posting Komentar