Sabtu, 28 Maret 2015

tambo



Tambo Minang,
Isinya Menggambarkan Asal-Usul Minangkabau
pariangan, dianggap negeri tertua versi tambo.(foto setahun yang lalu)
Tambo dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah Negeri Minangkabau. Tambo-tambo lama didapati hampir di tiap-tiap Nagari di Minangkabau yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo ini amatlah dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat, sehingga yang memegangnya adalah Kepala Suku dan Tetua adat. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya harus didahului upacara khusus.

Tambo ini berisikan cerita mengenai sejarah kedatangan nenek moyang ke wilayah Sumatera, asal usul nama Minangkabau dan suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau. Menurut beberapa ahli, Tambo ini sejenis dengan Babad Tanah Jawi di Jawa, atau Babad Pasundan di Sunda.

Konon, istilah “ Tambo” ini berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Tambay atau Tambe yang artinya: bermula atau berasal. Jadi, artinya hampir mirip yaitu cerita mengenai asal muasal dari sesuatu yang telah terjadi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Penulisan Tambo Minangkabau, pertama kali dijumpai dalam bentuk aksara Arab dan berbahasa Minang. Sedangkan penulisan dalam bentuk latin, baru dikenal pada awal abad ke-20. Jumlah naskah yang telah diketahui adalah 83 naskah, namun sebahagian ahli juga berpendapat bahwa naskah yang baru ditemukan adalah sebanyak 47 naskah, masing-masing tersimpan di Museum Nasional sebanyak 10 naskah, di Perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di Perpustakaan KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di Perpustakaan SOAS Universitas London 1 naskah, dan Perpustakaan RAS London 2 naskah. Judulnya pun juga bervariasi, antara lain Undang-Undang Minangkabau, Tambo Adat, Adat Istiadat Minangkabau, Kitab Kesimpanan Adat dan Undang-undang, Undang-Undang Luhak Tigo Laras, dan Undang-Undang Adat.

Secara umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan Negeri Minangkabau dalam satu kesatuan. A.A Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah Tambo yang dipusakai turun-temurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang bersifat secara dongeng. Namun hal ini wajar saja bila cerita yang didalam Tambo itu mengandung berbagai versi karena Tambo itu diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak pendengarnya.

Ringkasan cerita pada Tambo itu adalah seputar berdirinya Minangkabau. Cerita ini diawali dengan pelayaran tida orang anak dari Iskandar Zulkarnain yang dalam versi barat disebut The Great Alexander mencari sebuah wilayah baru. Salah seorang anaknya yang bernama Sri Maharajo Dirajo akhirnya mendarat dari Gunung Marapi. Hingga lahirlah ungkapan dalam Tambo,” Sajak Gunuang Marapi Sagadang Talua Itiak” yang berarti Gunung Marapi itu terlihat dari kejauhan oleh rombongan Sri Maharajo Dirajo sebesar telur itik di atas kapal yang mereka tempati. Dari Puncak inilah kemudian rombongan ini turun untuk mendiami kampung yang disebut dengan Pariangan. Hingga Pariangan ini kemudian disebut sebagai kampung tertua di Minangkabau. Selanjutnya, keturunan mereka yaitu Datuak Katumangguangan dan Datuak Perpatiah kemudian menciptakan berbagai peraturan adat untuk mengatur masyarakat yang semakin berkembang. Episode selanjutnya diteruskan oleh Tambo-Tambo nagari yang tersebar di setiap nagari, antara lain berkisah tentang asal muasal nenek moyang mereka sendiri. Tentunya kisah Tambo ini bertentangan dengan banyak sejarawan yang mengatakan bahwa nenek moyang Minangkabau berasal dari daerah pertemuan Sungai Kampar. Tapi itulah Tambo.

Sayangnya dalam penulisannya, Tambo tidaklah sistematis dan tidak ada penanggalan, karena itu sebagian pihak sedikit agak skeptis mengenai kebenaran Tambo ini sendiri. Meski demikian, Tambo adalah sebuah alat dalam mempersatukan persepsi masyarakat Minangkabau.

Dan keberadaan Tambo pun amatlah penting, sesuai dengan sebaris puisi karya Rusli Marzuki Sari,” Beri aku Tambo, jangan sejarah,”.


.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar