Senin, 23 Maret 2015

tarusan




Danau Tarusan
Disini, Alam Menunjukkan Keanehannya

Kabupaten Agam yang merupakan wilayah kami, punya ratusan destinasi wisata yang mampu menawarkan sesuatu yang beda dari lainnya. Agam punya semua jenis objek wisata, yang kami tidak punya  hanya salju saja. Selebihnya ada dan tersedia di Agam. Kami punya laut di Tiku, punya danau romantis di Maninjau, ada pula panorama cantik di puncak Lawang, area arung jeram, gunung keramat Marapi. Pendeknya kami punya hutan, gunung, sawah dan lautan lengkap dengan berbagai mitos dan misteri aneh yang mengundang keraguan. Jadi tak salah tagline wisata Agam,” Agam Pesona yang Beragam,”. Salah satu yang paling aneh dan membingungkan adalah fenomena Danau Tarusan.

saat dipenuhi air
Danau, atau mungkin lebih pantas disebut telaga ini berada di Jorong Halalang, Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek dengan ukuran sekitar 1 Km panjang dan lebar sekitar 20-50 meter (perkiraan saja). Selain bagian ujung dari danau ini yang berupa padang rumput lembut, sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa selain keanehannya. Bayangkan saja, danau Tarusan ini berbeda prilakunya dibandingkan danau konvensional lainnya seperti Maninjau, jika Maninjau merupakan sebuah danau Vulkanik yang tidak pernah kering, sebaliknya Tarusan punya keunikan yakni kadang kering hingga menjadi lapangan rumput dan ketika airnya penuh, Tarusan berubah menjadi danau. Tak ada yang tahu kapan persisnya hal ini akan terjadi. Jadi, airnya menyusut dan kadang naik. Entah apakah yang menjadi penyebab hal ini?
Pernah kariang salamo limo tahun ,” kenang Mak Yan (71), seorang pedagang minuman di danau ajaib ini.
saat kering
Namun, kata Mak Yan, pernah pula di musin kemarau air Tarusan ini naik sehingga berubah menjadi danau. Tak ada hujan atau pun angin, danau Tarusan ini berubah prilakunya tanpa didahului gejala alam. Hanya saja menurut Mak Yan, ketika air Tarusan susut beberapa waktu hingga kering berupa lapangan rumput, maka yang menjadi pertanda airnya akan naik adalah jika terdengar dentuman keras dari sisi Bukit bagian timur.” Itulah nan manjadi tando aia ka gamuah,” ujar Mak Yan.
Proses naiknya air ini memakan proses mingguan, tidak langsung penuh. Namun yang anehnya, tidak ada yang tahu dari mana datangnya air itu. Memang ada parit yang mengalir menuju Danau, namun intensitasnya amat kecil dan parit itu pun juga sempit. Jadi tak mungkin bisa memenuhi telaga luas itu. Jadi dari manakah sumber air itu???? Ini yang menjadi suatu hal yang tidak bisa dijelaskan akan sehat. Jika Tarusan punya semacam mata air, pastilah airnya akan penuh di waktu musim penghujan. Tapi hal ini tidak berlaku, mau hujan atau panas, tak bisa mempengaruhi air Tarusan.
Terkadang Tarusan ini selama berbulan-bulan menjadi Danau, namun esoknya airnya perlahan menyusut. Inilah yang terjadi selama berabad-abad silam tanpa ada penjelasan yang berarti.
Bupati Agam, Indra Catri pernah memboyong pakar Geologi Prof. Handang Bakhtiar untuk melakukan penelitian. Sang Profesor itu menemukan sebuah hal yang mengejutkan, Ia menemukan bongkahan batu kapur (Gamping) di tepi danau Tarusan yang sudah berusia ratusan abad. Atas penemuan itu, Handang berpendapat bahwa Tarusan dahulunya adalah Lautan.
Turun naiknya air Tarusan ini biasanya terjadi dua kali dalam setahun, yang seperti Saya bilang di atas, selalu diawali oleh dentuman keras pada pojok bukit. Di sana, memang terlihat ada lorong–lorong seperti  lobang. Kadang lobang ini, seperti ada yang menyumbat yang mengakibatkan airnya tergenang. Lalu, pada saat tertentu sumbatan tersebut seperti ada yang melepaskan sehingga membuat air keluar dan menggenangi Tarusan.
Keunikan lainnya, ketika air danau mulai memenuhi permukaan, entah dari mana bermunculan pula ikan, udang dan beraneka binatang khas perairan lainnya. Datangnya dari mana???? Ini juga tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Fenomena ini dimanfaatkan oleh warga sekitar dengan memancing atau menjala ikan-ikan tersebut untuk dikonsumsi.
Atas keanehan sekaligus alamnya yang cukup menarik, Tarusan mampu menyedot ratusan turis lokal setiap tahunnya hingga mampu pula mengangkat perekonomian masyarakat sekitar. Pungutan yang diambil masyarakat pun tergolong murah, hanya 5rb rupiah saja untuk kendaraan roda dua. Sedangkan untuk roda empat, mungkin sebesar 10 rb. Lokasi ini juga cocok dijadikan area camping karena punya lapangan rumput yang luas. Ketika Tarusan mengering, anak-anak sekitar juga menjadikan lokasi pinggiran danau untuk ajang sepakbola. Jadi, intinya Tarusan cukup menarik untuk dikunjungi.
saat kering, dijadikan sebagai lapangan bola
Penulis sendiri, sudah sering mengunjungi Tarusan. Di sini kita akan menemukan sebuah kedamaian yang mungkin jarang ditemui di tempat lain. Hembusan angin yang bertipu dari balik bukit, seakan selalu memanggil untuk datang dan datang lagi ke danau ini.
Satu lagi, ada sebuah pohon yang tumbuh agak ke tengah danau, seperti sebuah pulau yang hanya ditumbuhi satu pohon saja, pohon itu tergolong ajaib pula. Meski air Tarusan tengah naik, namun tidak pernah pula air Tarusan menenggalamkan pohon itu. Seakan-akan, pohon itu punya semacam pegas yang bisa mengatur kondisi sesuai dengan keadaan tinggi air. Aneh sekali.
Menurut Mak Yan, pohon itu jangan coba-coba diusik.” Babahayo, panunggunyo Harimau di ang tu mah,”  ujarnya dengan mimik serius.
Mak Yan ini, berdagang makanan dan minuman ringan di pinggir Tarusan ini. Ia merupakan pedagang senior yang mengetahui seluk-beluk tentang danau ajaib ini. Jika anda berkunjung ke objek wisata ini, maka setibanya di lokasi, lapak Mak Yan lah yang paling pertama dijumpai. Setiap datang ke sini, saya selalu mampir untuk sekedar mencicipi kopi buatan Mak Yan,
Lah jarang bana ang ka siko, si Son yang acok kamari,” ucap nya.
si Son ma ko Mak Yan,?” ucap Saya dengan heran.
Yang tukang foto tu ha!!” lanjut Mak Yan.
Oww.. maksud Mak Yan adalah Erison J Kambari. Ia adalah seorang fotografer profesional yang amat terkenal. Bisa jadi, keterkenalan Tarusan ini berawal dari foto-foto beliau tentang danau legendaries ini. Saya sudah beberapa kali bertemu dengannya. Terakhir waktu acara Makan Bajamba, pak Erison ini membawa beberapa temannya untuk mengabadikan momen khas Ranah Minang ini. Jika ada kesempatan, saya ingin pula bertemu lagi untuk belajar fotografi pada pria berkumis ini.
Untuk mengenal Tarusan, temuilah Mak Yan. Ia orang yang amat senang bercerita tentang keanehan danau ini........
dari arah inilah dentuman itu terdengar



di sore hari
banyak sekali pengunjung berselfie ria di sini, seperti yang dilakukan mahasiswi Unand jurusan Kimia ini, sayang sekali saya lupa minta no hp nya (sebenarnya gak berani).semoga iya melihat tulisan ini
 ket: gambar diambil dalam jangka waktu berbeda dan dengan kamera berbeda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar