Jumat, 03 April 2015

nikah bajapuik


Nikah Bajapuik,
Tradisi Unik  Di Pariaman
foto : gucilang.wordpress.com

Pada dasarnya, masyarakat Minangkabau mengklasifikasikan adat menjadi empat macam yakni Adat Nan Sabana Adat, Adat Nan Diadatkan, Adat Nan Taradat dan Adat Istiadat. Sederhananya, tradisi Nikah Bajapuik bisa dikategorikan sebagai Adat Nan Diadatkan. Hal ini berarti bahwa Adat Nan Diadatkan itu, merupakan peraturan setempat yang diputuskan secara musyawarah dan mufakat atau suatu Nagari tertentu. Oleh karena itu tata cara pernikahan yang dilakukan di Pariaman berbeda dari yang lainnya. Daerah lainnya, sama sekali tidak mengenal tradisi Nikah Bajapuik ini.
Umumnya, Bajapuik ( dijemput) merupakan tradisi yang dilakukan oleh orang Minang dalam prosesi adat perkawinan. Karena, dalam sistem Matrilineal posisi suami (urang sumando) merupakan orang datang. Oleh karena itu diwujudkan kedalam bentuk prosesi Bajapuik dalam perkawinan. Namun, di Pariaman prosesi ini diihwalkan kedalam bentuk tradisi Bajpuik yang melibatkan  barang-barang berharga yang bernilai seperti uang. Sehingga dikenal dengan Pitih Japuik (Uang Jemput), Agiah Jalang (emas yang diberikan ke pihak laki-laki) dan Pitih Ilang (Uang Hilang).
Tapi, secara teori tradisi ini mengandung makna saling harga menghargai antara pihak perempuan dengan pihak laki-laki. Kabarnya, dahulu kala pihak laki-laki akan merasa malu kepada pihak perempuan jika nilai Agiah Galangnya lebih rendah dari pada nilai Uang Japuik yang telah mereka terima. Saat ini, yang terjadi sekarang malah sebaliknya.
Dalam realitas yang terjadi saat ini, terdapat jurang yang tajam antara teori dan prakteknya, tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat hingga kini sudah jauh berbeda dengan prinsip dasarnya. Jika sebelumnya nilai Agiah Jalangnya melebihi melebihi Uang Japuik, maka yang terjadi sekarang malah sebaliknya. Bahkan dalam perkembangannya, muncul pula istialh Uang Hilang. Uang atau Pitih yang hilang ini merupakan pemberian dalam bentuk uang atau barang oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki.
Uang hilang yang sudah diberikan kepada pihak laki-laki itu, tidak dapat dikembalikan meski pihak laki-laki membatalkan pernikahan itu. Sedangkan Uang Japuik, dimana secara hukum adat, secara hukum adat apabila pertunangan dibatalkan, maka pihak yang membatalkan itu diharuskan membayar dana sebesar Uang Japuik tadi, dan itu disebut dengan Lipek Tando.
Semakin tinggi status sosial seseorang, maka semakin banyak pula biaya untuk menggelar acara ini. Sayangnya fenomena ini semakin berkembang dalam tradisi Bajapuik, sehingga tak mengherankan jika seorang yang status socialnya tinggi akan dinilai dengan uang hilang yang tinggi pula.
Tradisi unik ini hanya dapat ditemui di Pariaman saja, dan masih diteruskan oleh masyarakat sekitar.
.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar