Rabu, 01 Juli 2015

Bule Batu Taba



Bule Yang Cinta Tenun Minang
Bernhard dengan istrinya Erika
Matanya dengan awas memandangi gerakan berayun dari mesin tenun itu. sesekali, Ia bergumam tanda puas melihat hasil pekerjaan anak didiknya yang berjumlah 10 orang tersebut. tak lama berselang, Ia berbincang dengan istrinya untuk lebih mengembangkan desain kontemporer pada motif selendang khas Minang yang sedang dalam proses pembuatan itu.
Pekerjaan ini sudah lama ditekuninya. Sepuluh tahun silam, atau tepatnya tahun 2005, Bernhard Bart seorang arsitek asing dengan dibantu beberapa koleganya dari Indonesia mendirikan studio tenunan Sumatera Loom yang menghasilkan songket khas Minangkabau berkualitas wahid di Jorong Panca, Batu Taba. 5 Km sebelah timur Kota Bukittinggi.
Kini, studio yang dikembangkan Bart bersama istrinya, Erika, sudah mampu dan berhasil melatih generasi muda lokal untuk menenun kain berkualitas nomor 1 layaknya era keemasan songket berpuluh tahun silam.
“ Sejak tahun 1996, Saya sudah meneliti songket Minangkabau dan mengumpulkan data untuk pengembangan motif-motif tradisional,” ujar Mr. Bart dengan bahasa Indonesia yang lumayan fasih beberapa waktu yang lalu saat ditemui di studionya.
“ Saya cinta sekali dengan tenunan ini, karena melambangkan dinamika dan tatanan sosial kehidupan bermasyarakat. Apalagi yang berasal dari Koto Gadang. Bahkan sebelum tinggal di sini, Saya juga berniat tinggal di sana, namun tak kesampaian,” lanjutnya bersemangat.
Saking cintanya dengan berbagai motif tenunan, Bart mengaku telah mendatangi berbagai museum dan kawasan sentra tenunan mulai dari Laos hingga USA sana.
Kecintaan Mr Bart pada songket ini sungguh luar biasa. Tak hanya rela meninggalkan negerinya yang begitu jauh, Bart  juga melepaskan jabatannya sebagai arsitek demi dapat mengenal sekaligus mengembangkan berbagai mode songket.
“ Studio kami tak hanya membantu kehidupan masyarakat kecil di sini, tapi Studio ini juga merupakan sebuah tempat untuk memulai sesuatu yang sudah hilang, yakni songket lama Minangkabau,” ujar Kakek kelahiran tahun 1947 yang mengaku amat kesulitan berbahasa Minang.
Bernhard Bart lahir di Bern, Swiss. Diwaktu muda, Ia amat senang mengunjungi berbagai Negara. Disetiap Negara yang didatangi, Ia memuaskan ketertarikannya pada motif kain khas setempat.
Setelah mengunjungi banyak negara, akhirnya, Bart memutuskan untuk menetap di Indonesia karena Ia beranggapan di Indonesia banyak ditemui motif unik dari bermacam songket. Lama berkelana di Indonesia, akhirnya Ia memilih tinggal di tempatnya yang sekarang demi kedekatan emosionalnya pada songket Minangkabau,” Songket Koto Gadang, merupakan tenun tangan terhalus di dunia,” ucapnya.
Saat ini, tenunan berkualitas yang dihasilkan oleh studionya, telah dijual ke berbagai negara. Namun, Ia lebih memprioritaskan penjualan produknya kepada orang Minangkabau. Hal ini dimaksudkan Bart agar masyarakat Minangkabau lebih peduli dengan tenunan asli Minangkabau itu.
bernhard memeriksa kerjaan anak didiknya
Dalam satu bulan, rata-rata setiap anak didiknya mampu menghasilkan satu tenunan,” Ada tenunan yang bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan, tiga minggu dan ada yang lebih lama. Tergantung kerumitan dan kehalusan kainnya,” lanjut Bart.
Selain kecintaannya yang begitu mengakar terhadap songket Minang, profesi asli Bart yang seorang arsitek, turut berperan pada riset dan pengembangan motif. Salah satu hasil risetnya adalah memodifikasi alat tenun itu hingga mempersingkat waktu produksi tanpa mengurangi kualitas dari kain tersebut.
Keberadaan Bart dalam mendirikan dan menumbuhkembangkan songket lama yang telah hilang itu patut diapresiasikan. Apalagi, Bart tak pernah pelit dalam membagi ilmunya. Bersama studio unik itu, Bart telah banyak membantu memberdayakan masyarakat sekitar hingga jadi penenun handal.
Meski Ia merasa telah merevitalisasi sesuatu yang hampir punah dan Ia pun merasa telah berbuat banyak untuk Persada ini. Nyatanya, hingga saat sekarang statusnya masih seorang turis bersama Istrinya Erika sehingga sampai sekarang Ia harus memperbaharui izin tinggal setiap beberapa bulan ,” Saya ingin punya KITAS agar tak repot bolak-balik mengurus perizinan menetap,” harap Bart.
alat tenun yang telah dimodifikasi
Soal perjuangannya meraih KITAS, Bart mengaku telah menceritakan persoalan ini kepada Gubernur Sumatera Barat terdahulu, Gamawan Fauzi. Tapi tak membuahkan hasil, ” Susah sekali birokrasi disini, terlalu kaku. Namun kami akan tetap berusaha ” keluhnya.
Meski jauh dari Kampung Halaman, Bart mengaku tetap menyempatkan diri berkunjung ke hampung halamannya minimal satu kali dalam setahun.
Dari tindakannya itu, terlihat tidak ada niat sama sekali untuk mengkomersilkan songket Minang demi mengeruk keuntungan pribadi. Pasangan suami istri dari Eropa ini memang begitu mencintai tradisi kebesaran Minangkabau melalui songket tenunannya.
Sekarang, Studio Sumatera Loom yang dikelola Mr.Bart, terus menggiatkan konservasi seni tenun melalui riset dan produksi songket dengan motif-motif tradisional khas, tak hanya dari Sumatera Barat, tapi wilayah lainnya di Sumatera. Meski demikian,  Sumatera Loom juga tak memicingkan mata terhadap perkembangan masa kini. Mereka juga mengembangkan songket songket modern namun masih memakai motif-motif tradisional.
Sampai saat ini, studio ini telah mampu menghasilkan 25 macam selendang tradisional dari beberapa tempat tenunan. Beberapa hasil songket tersebut juga ada yang berasal dari desain motif yang diangkat dari motif ukir pada pakaian arca Syamatara dan arca Shiva-Nandiswara (abad ke-13) dan arca Bhairawa-Buddha (abad ke-14). Motif-motif itu sangat mirip dengan yang dikenal secara luas pada masa kini.
Bart memberdayakan masyarakat sekitar lewat studionya
Selain songket dan selendang, Studio Bule Swiss ini juga memproduksi sarung, sisamping, ikat pinggang, hiasan dinding, dan kain kecil untuk souvenir. Semua produk itu benar-benar buatan tangan, ditenun dengan sutra ulat dan benang logam emas serta perak.
Semua produk itu dibuat dengan menerapkan manajemen satu atap, artinya hal-hal teknis mulai dari pengolahan benang, pencelupan warna, mancukie motif, menenun, hingga finishing, dilakukan dalam satu pengawasan sehingga pengontrolan kualitas pengerjaan pada setiap tahapan proses menjadi lebih mudah.
Meski sudah cukup lama tinggal di Minangkabau, Mr Bart mengaku tak terlalu suka dengan masakan Minangkabau yang pedas,” Asalkan tidak ada cabe, Saya pasti suka. Namun tak ada masakan Minang yang tak pake cabe,” tutupnya sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar