Jumat, 25 September 2015

Air Terjun Langkuik Malalak



Langkuik Nyaris Membunuhku


Awalnya, kira-kira Agustus lampau saya melihat foto air terjun yang amat cantik di facebook. Namanya langkuik. Terkesan aneh, namun dari namanya jelas sekali itu berasal dari Sumatera Barat. Dugaan saya, pasti itu air terjun dari Pesisir Selatan. Sudah jelas, sangat jauh dari Bukittinggi, 6-7 jam karena itu saya tak pernah tahu. Penasaran karena rupa air terjun itu begitu cantik, gambarnya saya telusuri.
Alamak, ternyata ini air terjun tersembunyi di Malalak. Sebuah wilayah yang bisa ditempuh dengan jarak setengah jam saja dari rumah. Begitu dekat, namun amat memalukan karena saya tak tahu ada air terjun seindah ini di Kabupaten saya. Padahal saya seorang mahasiswa pariwisata lho!!!!
Tak ambil tempo, lokasinya ku salin dan ku catat. Langkuik berada di Jorong Nyiur, Kenagarian Malalak Selatan.
Malalak merupakan daerah yang masih asing bagi saya. Hanya sekali saya pernah ke sana. Tepatnya di akhir 2014 kemarin dalam rangka liputan MTQ tingkat Agam. Camatnya, saya kenal baik. Namanya Pak Harmezi. Masih muda umurnya untuk ukuran seorang Camat. Pak Harmezi merupakan salah satu mentor saya saat Prakerin di Dinas Pariwisata tempo hari. Tak heran, wisata Malalak ikut terdongkrak naik karena Camatnya mantan pegawai Dinas Pariwisata.
Minggu ke-3 bulan September, saya bergegas ke sana. Sebenarnya kabut asap masih tebal. But, karena masuk rimba, hitamnya kabut asap pasti tidak akan terasa. Jadi ku putuskan berangkat. Gaya ku bak petualang National Geographic. Sedangkan adik sekampung, Alex akan jadi teman dalam perjalanan ini.
alex
Jujur, mengingat pengalaman saya bertualang dalam liputan kemana-mana, Alex pasti akan takluk dan kutertawakan. Ku bayangkan Alex akan berkata” Lambek-lambek jalannyo bang, takuik Lex atau Alah tu bang, pulang wak lai ndak talok Lex lai” hahahaha.
Kami berangkat dengan motor. Tak ada halangan sama sekali saat kami menuju sana meski jalanan berada di balik-balik bukit rawan longsor. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya kami sampai di posko air terjun itu.
Masyarakat di sana bilang, dari posko dapat ditempuh setengah jam menuju air terjun fenomenal ini. “ Ikuik se jalan ko da,” katanya seraya menunjukkan jalan kecil dibelakang posko.
Karena dekat, kami tak ingin ditemani guide lokal. Cukup kami berdua saja. Apalagi, terlihat beberapa wisatawan juga mulai berdatangan. Jadi, kami tak akan tersesat.
Awal perjalanan, kami melintasi area bersawahan, kemudian memasuki zona durian. Banyak sekali pohon durian di sini, sayangnya musim buah berduri itu sudah lewat. Dua rute awal ini masih mudah dilewati karena treknya mendatar (kira-kira 400 meter).

Setelahnya, kami mulai memasuki area hutan. Bau tanah sangat kental di sini. Jalannya pun berubah jadi becek. Turunannya, masya allah!!!, begitu tajam. Ini jelas derita serius bagi saya  karena phobia ketinggian. Di sini, alam yang pegang kuasa. Anda hanya bangkai-bangkai tak berdaya. Namun, kami berhasil melewatinya kendati lengan saya sempat bertabrakan dengan pohon. Perih luar biasa.
sulitnya rute
Makin lama, treknya kian menurun dan berbelok-belok. Memang, masyarakat di sana menaruh semacam rotan untuk penanda sekaligus berpegangan. Kelihatannya mudah patah, tapi sebenarnya cukup kokoh kok.
Setelah turunan-turunan tajam itu mulai berakhir. Suara gemuruh sungai mulai terdengar seram.
Di atas gundukan tanah, ku lihat ada sungai dibawah. Airnya jernih deras penuh bebatuan. Sebelum sampai di sana, kita harus menuruni jalan yang benar-benar menukik tajam. Kemiringannya ada 75 derajat mungkin. Bisa dipastikan, jika salah melangkah, tubuh akan patah-patah sampai di bawah. Selain terjal, juga licin bukan buatan.
salah satu trek berbahaya
Akhirnya kami sampai dibawah tebing atau di pinggir sungai. di sini, kami beristirahat melepas lelas.
Saat itu, saya mulai merasa ada yang aneh dengan perut. Sebelum saya berangkat, saya sudah makan. Kenapa perut ini terasa perih?? Ya tuhannnn.mag ku kambuh..
di ujung, kita akan melihat air terjun pertama dari deretan air terjun lainnya
Ini masalah besar. Saya tak yakin mampu sampai ke air terjun. Salah seorang pengunjung yang baru balik dari sana mengatakan,” Satangah jalan baru da, tapi jalannya ndak parah dow. Cuma licin bana. Awak se caliak ko da ha, lah basah kuyuik” katanya mengingatkan seraya menunjukkan arah jalan.
indahnya bebatuan di sungai
Mendadak, perutku kembung dan mulut bersendawa. Celaka 13.
 Ini pertanda mag ku bangkit. Seketika, tenagaku hilang. Rasanya ada yang lepas dari tubuhku. Pertentangan bathin mulai terjadi. Antara rayuan untuk kembali dan pesona air terjun yang memanggil.
Namun tak saya ceritakan perkara mag ini pada Alex (takut dianggap lemah karena saya datang ke sini bak petualang sejati,). Hanya ku bilang jika perut ku lapar.
Sebelumnya, ku utarakan pada Alex bahwa kita akan pergi ke hutan. Ku ingatkan berulang kali akan besarnya bahaya. Alex menjawab,” Lex ko tabiaso hiduik kareh bang, tadi malam se alun lalok Lex sapiciang pun”. Benci sekali saya mendengarnya.
Kondisiku terus menurun, ku ajak Alex untuk kembali. Namun, terjadi perdebatan sengit dengan pemuda tengik ini. Ia bersikeras tak mau kembali,” Tangguang bang, seketek lai tu nyo, Alex se pagi tadi cuma minum kopi se nyo. Abang kan alah makan ” perkataan Alex ini jelas amat merendahkan harkat saya.
Dalam hati, mungkin ia berkata,” lamah ang mah”.
Seharusnya, sebelum memutuskan untuk ke sini, nasi merupakan bekal yang harus dibawa. Tapi berhubung hari masih pagi, nasi tak jadi ku beli. Ini betul-betul yang paling kusesali.
Demi harga diri yang terinjak oleh pemuda tanggung ini, kuputuskan untuk maju.
Ku genggam ransel, ku ikat sendal, ku teguk air, aku maju melangkah. Tak ku perdulikan lagi Alex. Harga diriku jelas terusik, aku tak mau kalah.
Dengan tergesa, ku susuri dinding sungai yang luar biasa licin itu. Berulang kali nyaris terpeleset. Jika terpeleset, arus dengan sungai berbatu akan menyambut di bawah. Membayangkan jatuh, sudah bikin ngeri. Apalagi, saya tak bisa berenang.
Setiap melangkah, perut terasa teriris. Lenganku mulai nyeri akibat tertabrak pohon tadi. Jujur, saya mulai menyerah.
Ku lihat ke belakang, Alex jauh tertinggal. Setelah beberapa turunan, akhirnya terdengar gemuruh air terjun. Luar biasa bunyinya. Seperti genderang perang.
Setelah berjalan 15 menit penuh derita dari tempat peristirahatan, akhirnya sampai juga di air terjun ini.
Langkuik merupakan sebuah kawasan yang punya 5 air terjun tersembunyi yang dianggap sebagai salah satu surga terbaik di Minangkabau..
Air terjun pertama yang punya arus deras ini disebut Batang Pipia. Tingginya ada sekitar 75-100 meter. Gemuruh air jatuhnya luar biasa hebat. Berdiri dari jarak 10 meter dari jatuhnya air, akan membuat tubuh basah kuyup. Harus ekstra hati-hati karena begitu licin luar biasa. Lumayan cantik nilai air terjun ini. Jika kategori penilaian air terjun dihitung dari skala 1-10, ku beri ponten 6.
air terjun pertama yang dijumpai
Hari sudah beranjak tinggi. Sedangkan masih ada 4 air terjun lainnya. Terpukau dengan air terjun ini, mendadak mag ku hilang. Segala letih terbayar sudah.
pengunjung tengah berfose
Lantas, kami bergegas mengikuti arus sungai arah ke hulu karena disitu ada air terjun Langkuik Barangin. Menuju ke sana ada sekitar 5 menit dari air terjun pertama.
Hanya, jalannya seakan jadi teror tersendiri bagi saya karena harus menyebrangi sungai Batang Malalak. Sungai ini tak terlalu lebar. Paling 10 meter saja. Namun airnya cukup dalam. Saat itu, ketika kami hendak melintas ketinggian air sudah setinggi paha.
air terjun ke dua, disini kita harus menyeberangi air setinggi paha. di sana ada pedagang yang menjual minuman
Saya menggigil ketakutan. Tubuh berkeringat dingin. Seharusnya saya kembali saja.
Di seberang, saya melihat deretan pedagang yang menjajakan popmie, kacang rebus, dan minuman. Mereka memandang kelu melihat seorang pemuda takut masuk air layaknya kambing hendak dimandikan. Tatapan sinis mereka tak akan kulupakan.
Anak kecil berumur 13 tahun berteriak,” Ka tapi stek bang, aie ndak dalam dow” katanya berteriak. Suaranya tak terlalu saya dengar karena lokasinya persis di air terjun kedua, Langkuik Barangin. Tinggi air terjun ini hanya sekitar 10 meter saja. Namun, airnya cukup deras hingga titik jatuhnya benar-benar penuh menghujam tanah.
“ Taruih-taruih!!, ndak baa gae dow” kata pedagang lainnya menimpali.
Berbicara memang gampang. Prakteknya yang sulit. Bayangkan, saya tak bisa berenang dan terpaksa menyeberang dengan air setinggi paha orang dewasa dan saya sudah terlanjur masuk air. Setinggi mata kaki saja air sudah membikin guncang, apalagi setinggi ini.
Ku lihat Alex dibelakang. Ia mengulum senyum tanda meledek,” Taruih lah bang”.
Hampir saya bercarut melihatnya.
Anak kecil yang berteriak tadi jadi prihatin melihat saya gelagapan. Tak ambil tempo, Ia melompat ke dalam air. Kulihat, air sudah setinggi pusarnya. Namun, tetap teguh melangkah. Saya berdecak kagum sekaligus malu meratapi ketidakberanianku.
alex berhasil menyeberang dengan tangkas
Anak itu bernama Hendra. Masih kelas 2 SMP. Dia menunjukkan bagian sungai yang bisa diterobos. Namun, saya tak bergeming. Masih takut. Ohh tuhan, kenapa saya sepengecut ini.
Hendra sepertinya muak. Lalu, Ia membimbing tanganku layaknya seorang mempelai. Hendra berjalan di depan. Perlahan kami susuri bagian sungai yang agak dangkal. Saya sudah basah disekujur badan.
Kami sampai ditepian. Keringat sudah bercampur dengan air sungai yang amat jernih itu. Ku lihat dengan mata tak percaya jika Alex begitu mudahnya menyeberangi sungai itu. Seperti menyeberangi batang aie katiak nan di kampuang saja.
Pedagang menawari kopi. Saya mengangguk pelan.
Dan, kopi itu begitu nikmat terasa. Ku edarkan pandangan menuju air terjun langkuik barangin ini. Syahdu rasanya.
disini, pedagang menawarkan dagangannya
Saya mulai bertanya dengan pedagang namanya, Zainuddin  mengatakan jika air terjun ini baru populer dua bulan belakangan. Sebelumnya, tak diizinkan wisatawan untuk datang berkunjung karena takut berbuat mesum dan merusak alam oleh Ninik Mamak setempat. Sadar akan besarnya potensi perekonomian, masyarakat kemudian memperbolehkan wisatawan untuk berkunjung dengan syarat tak merusak kearifan lokal yang sudah terjaga sejak ratusan silam
ini, air terjun yang kedua tadi
Ku tanyakan pada Om Zainuddin, dimana air terjun rupawan yang ku lihat di facebook tempo hari itu.
“ Paliang 10 minik dari sikonyo” kata Zainuddin.
Terlihat Ia begitu bersemangat karena saya seorang wartawan. Dengan penuh gaya ia mengatakan pada hari minggu atau libur, ada sekitar 300 pengunjung yang datang.
Zainuddin, hanya hari minggu menawarkan dagangannya. Di lain hari ia kembali berkebun.
“ Ciek hari minggu se wak ka batang aie ko nyo. Lain hari, langang urang kasiko,” ujarnya sambil menghirup rokok kreteknya dalam-dalam.
Lepas penat, ku ajak Alex meneruskan perjalanan yang sudah dekat.
“ Wak antaan bang ha,” kata Hendra.
Sejenak aku bimbang, namun karena ia sudah mau susah payah menyeberang menjemput kami. Tak ku tolak tawarannya.
Meski rute terbilang sulit, namun kehadiran Hendra cukup membuat suasana jadi teduh. Saat berjalan dibawah tebing-tebing yang basah, Hendra bergumam,” Tangga an lah sendal bang, tasialir beko,”
kayu itu merupakan salah satu trek jalan, di sampingnya alex terlihat heran melihat terjalnya dinding batu
Jika sekolah libur, Hendra selalu datang ke sini. Ia menemani Zainunddin (Uwak) berdagang di dekat air terjun Langkuik Barangin itu. Meski tubuhnya gempal, Ia sama sekali tak kesulitan melangkah diatas batuan terjal berbahaya itu. sesekali, Hendra mempertontonkan kemampuannya dalam berenang. Anak ini amat senang bercerita.
Karena kemampuannya menemani pengunjung menuju Langkuik Tinggi yang jadi destinasi utama di sini. Tak jarang, jasanya sering dimanfaatkan wisatawan. Penasaran, saya bertanya,” Bara lo diagiah nyo di urang ndra??
“ Sekedarnya se bang” ungkapnya jujur.
hendra tengah berenang, sorry gambarmu blur
Sementara itu, Alex yang berjalan dibelakang mulai basah kuyup. Setiap melihat saya, Ia terkikik. Mungkin ia masih geli melihat saya dibimbing anak kecil melintasi sungai tadi.
Setelah menyusuri dinding tebing dan pinggiran sungai, akhirnya kami disuguhi pemandangan memukau.
Satu air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meter (Langkuik Tinggi) tampak begitu perkasa di hadapan. Di depan, bagian tebing sebelah kanan sungai, mengalir sepasang air terjun besar dan kecil lainnya. Benar-benar terpukau dibuatnya.
Lelah hilang berganti dengan kepuasan. Air terjun langkuik tinggi dengan berani kuberi nilai 8 dari 10 skor penilaian. Jika jalan ke sini mudah, maka akan ku beri nilai 10.
Airnya seakan tercurah dari langit. Luar biasa deras. Kami berdiri terpukau dari jarak 50 meter dari air terjun itu. Hentakan dentuman itu menggelegar laksana terompet sangkakala. Dari jarak sejauh itu, kami sudah basah kuyup.
Dari jauh terlihat asal airnya berada di puncak bukit. Airnya amat jernih. Sejuk bukan buatan.
Di depan saya terkapar mesra tiga air terjun minta digoda.
Saya bersimpuh karena puas.
Benar-benar kuasa tuhan menciptakan pemandangan secantik ini. Di sini, saya menyatu dengan alam layaknya film into the wild.
disini mulai terlihat dua air terjun
Rasanya ingin ku berdiri langsung dibawah air terjun itu. tapi jika ingin ke sana, kita harus berenang. Itu tak mungkin dilakukan mengingat peralatan yang saya bawa bisa konslet kena air. Apalagi, kami tak membawa baju pengganti.(sebenarnya karena tak bisa berenang hehe).
air terjun ketiga
dibelakang, air terjun langkuik tinggi.yang ke lima
itu, air terjun ke empat. sedang surut airnya
Setelah puas mengambil gambar. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Kami harus kembali.
Kami balik ke tempat pedagang tadi. Berpamitan. Hendra mengatakan” Minggu bisuak ka siko liak dih bang” katanya penuh harap.
Ku usap punggungnya.
Setelahnya, kami bergegas pulang. Entah kenapa, sungai itu dengan mudah diseberangi. Tak terasa, kami sudah sampai di pinggir sungai tempat pertama kali berhenti dengan Alex.
Didepan, jalan yang tadi berupa turunan terjal. Mendadak berubah menjadi tanjakan mengerikan. Melihat itu, perut ku langsung perih, Mag kembali. Sialnya, selama 400-500 meter ke depan, saya harus mendaki bukit yang penuh dengan lumpur itu. Saya tersenyum kecut.
Kali ini tak perlu lagi berbohong pada Alex. Kukatakan jika Mag ku tengah kambuh jadi janganlah terlalu dipaksa untuk menaikinya.
“ Kalau tahu dari tadi abang mag, ndak amuah gae Lex kamari” katanya prihatin
 Saya dapat pastikan deritanya akan bertambah mengingat pendakian ini akan menguras habis seluruh tenaga. Sementara belum ada makanan yang masuk ke dalam perut. Padahal, hari semakin tinggi.
Ku kencangkan ransel. Dengan membaca Bismillah, ku tapaki jalan itu dengan merangkak pelan. Tanjakan ini amat mengerikan. Tak hanya energi yang dikuras. Otak pun terpaksa diperas karena setiap langkah kita harus mempertimbangkan pijakan. Salah memijak, kita akan tergelincir ke bawah.
Tebing itu panjangnya sekitar 50 meter. Selepasnya, ada tikungan tajam dan kembali menanjak lagi sejauh 50 meter.  Sangat-sangat menguras tenaga. Terlebih lagi, matahari tengah bersinar terik meski dibawah temaram kabut asap.
Seketika nafasku cepat tak beraturan. Peluh sudah keluar besar jagung. Tiap 10 langkah saya terpaksa berhenti karena makin lama-lama, lambungku serasa di iris. Ya Tuhan, kenapa harus disini Mag datang menyerang???
Tubuh bergetar dan sempoyongan. Saat itu aku mulai memikirkan tentang kematian. Saya membayangkan pingsan saat menanjak dan tubuhku disambut bebatuan tajam di bawah sana dan baru diketemukan sore hari.
Pikiran seperti itu melayang di kepala.
Baju sudah basah oleh keringat dan kurasakan suhu badanku amat panas. Belum pernah seperti ini.
 Ku lihat Alex belum terlalu letih. Mungkin saja, saat itu Ia kesal karena saya sering minta berhenti. Tapi saya sudah tak bertenaga lagi.
Entah beberapa kali kami berhenti dan akhirnya kami sampai di kebun durian yang datar itu. ku lihat sebuah pondok dan kuputuskan beristirahat di sana.
Nafasku memburu layaknya kereta api. Kaki tak bisa diangkat lagi. Perut sudah terasa kaku. Saya pucat pasi. Tak lama lagi mungkin saya akan pingsan.
Mendadak, penglihatan ku berpendar. Ya Tuhan, belum selesai Mag sudah datang pula Migrain.
Dari kecil saya menderita penyakit Migrain Classic namanya. Jika kelewat stres dan terlalu lelah, saya akan terkena ini. Gejalanya ditandai dengan berpendarnya penglihatan di salah satu mata yang mengakibatkan pandangan jadi kabur. Kemudian, kepala akan mendadak sakit sebelah berdenyut-denyut. Tak hanya itu, sebelah badan akan mendadak kebas atau sapiradan. Selama setengah jam akan begini. Selepasnya, lidah akan kelu dan mendadak susah berbicara. Intinya saya akan kesulitan merespon atau akan eror dan dua jam kedepan akan pulih dengan sendirinya meski kepala masih sakit.
Sudah lama saya tak terserang penyakit sial ini, terakhir 3 tahun silam selepas bermain futsal.
Dan saat ini penyakit sepele itu berubah menjadi mengerikan karena tengah berada di dalam hutan dengan keadaaan yang tanpa tenaga sama sekali.
Jujur, kematian terasa semakin dekat.
Setengah jam lagi saya akan eror dan muntah-muntah. Tak mau hal itu terjadi di tengah hutan. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, kuseret kaki dengan perlahan. Alex terpaksa membawa ransel saya yang berat itu.
Alhamdulillah saya selamat meski begitu menderita.
Alex yang awalnya amat kuragukan mampu menuntaskan misi ini, nyatanya aman-aman saja. Sedangkan saya, nyaris celaka.....
Jika ingin ke Langkuik, saya sarankan untuk datang dengan kondisi prima dan ajaklah guide lokal untuk menemani.
Selamat mencoba petualangan ekstrem menuju sorga di Agam ini.
 cat: jika ingin foto lebih bagus, anda bisa email saya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar