Minggu, 15 November 2015

sejarah singkat orang tak terkenal



Here I am
Saya dilahirkan pada 27 Mei 1988 silam di sebuah tempat terpencil di Kaki Gunung Marapi. Tepatnya di Dusun Cangking, Desa Batu Tebal, Kecamatan IV Angkat Candung. Selepas runtuhnya rezim Soeharto, nama kampungku yang aneh ini dikembalikan ke dialek lokal pada tahun 2001 menjadi Jorong Cangkiang, Kenagarian Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek (cat: Canduang memekarkan diri jadi Kecamatan baru,2002).
Umur 40 hari, saya dibawa kedua orang tua menuju Lamno, Aceh Barat. Kedua orang tua saya memang bertugas di sana sebagai tenaga pengajar sejak dekade 70-an.
Tak banyak yang saya ingat dari masa kecil di pelosok Aceh itu. Hanya saja, saya punya  sepasang  teman di sana. Namanya Ijah dan satunya lagi (pria) sudah lupa.
Saat usia empat tahun, dua anak inilah yang senantiasa menemani ku berlarian, bergelut atau mengejar angsa. Di Lamno, penduduk sekitar sangat gemar memelihara angsa. Entah apa alasannya.
Mengejar angsa merupakan ritual tersendiri bagi kami. Seharusnya itu berbahaya mengingat tinggi angsa itu hampir sama dengan kami. Tapi, namanya anak kecil maka kami tak kenal akan bahaya.
Suatu ketika, saya melempar anak angsa yang banyak berkeliaran itu dengan sebongkah batu. Si angsa kecil itu tewas meregang nyawa. Itulah “ pembunuhan” pertama dan terakhir yang saya lakukan.
Selain mengejar angsa, aktifitas kami banyak dihabiskan bermain gundukan pasir di rumah panggung tetangga. Di sana, kami terampil membuat “ Godog”  yang kemudian di adu untuk mencari siapa yang terkuat.
Walaupun hanya bertiga saja. Seingatku, itu adalah masa yang indah.
Hingga suatu ketika, terjadi sebuah peristiwa yang mengubah segalanya. Tahun 1992. Kami sekeluarga (kecuali nenek dan kakak) terlibat tabrakan hebat. Mobil travel yang kami tumpangi “ Balago” dengan truk tangki minyak. Akibatnya, sungguh tak terbayangkan. Mobil tangki besar itu ringsek bagian depannya. Mobil kami, terbalik. Ironisnya, kami berempat (ibu, ayah, saya dan adik) duduk di samping sopir. Tangan ibu terhimpit (akhirnya diamputasi), ayah tempurung lututnya pecah (pincang seumur hidupnya), saya dan adik menderita luka gores di bagian kepala.
Masih lekang dalam ingatan, saya yang masih berusia 4 tahun namun fasih berbahasa Aceh, digendong penduduk lokal sambil mengusap, membujuk dan menciumiku.
Ya, saya menangis karena kepalaku terbentur cukup keras dan mengeluarkan darah cukup banyak.
Ku lihat Ayah sudah pingsan tak berdaya di samping mobil ambulance. Sedangkan diseberangnya, petugas terlihat sibuk mengevakuasi ibu yang tangannya terhimpit badan mobil. Ibu masih sadar walau tangannya hancur.
“ Ma si Jal(panggilanku)”?? kata Ibu dengan suara  tertahan sambil pandangannya tertumpu padaku.
Banyak masyarakat di sana menangis terharu melihat aku memeluk tubuh ibu. Ku lihat yang menyeka air mata umumnya kaum perempuan. Sebagian lainnya, kaum bapak-bapak terlihat tengah menginterogasi Sopir Tangki Minyak itu.
Sekali terdengar debuk pukulan. Sopir tangki itu dihajar massa yang marah.
Sedangkan sopir mobil travel yang kami tumpangi, melarikan diri……..
Bertahun-tahun sesudahnya, akhirnya saya dapat cerita jika kecelakaan disebabkan oleh sopir kami tengah mengantuk dan  sudah dijebloskan ke penjara.
Kami sekeluarga dibawa ke rumah sakit Cut Nyak Dien di Pusat Kota Aceh. Di tahun itu, sistem pengobatan belum secanggih zaman sekarang hingga menyebabkan tangan ibu terpaksa diamputasi.
Setelah diamputasi, masa pemulihan pun berlangsung cukup lama. Rasanya kami berbulan-bulan terpaksa menghabiskan waktu di rumah sakit ini. Ya, waktu bermain bersama dua orang temanku yang tadi sudah tak ada.
Sepanjang hari, saya hanya berkeliling di areal rumah sakit yang cukup besar itu.
Waktu itu, saya adalah anak kecil aktif yang punya rasa ingin tahu  besar dan selalu suka bertanya. Karenanya, tak heran seisi rumah sakit mengenal saya. Tak jarang, perawat-perawat di sana sering menggoda maupun menggendong saya. Sering pula mereka membawakan saya kue-kue kering yang menggugah selera.
Lepas dari rumah sakit, kami kembali ke rumah kontrakan. Masyarakat menyambut dengan suka cita. Hubungan kami dengan tetangga amat dekat. Mereka tak pernah menganggap kami sebagai pendatang. Bahkan kami dianggap sebagai saudara. Lagian, masyarakat Aceh dari dahulu hingga sekarang cenderung lekat dengan warga Minangkabau karena persamaan Agama.
Kami disambut dengan upacara “Peusijuk”, semacam upacara selamatan atau buang sial mungkin.
Pasca kecelakaan, hidup tak pernah sama lagi. Apalagi, kondisi Ibu yang punya tangan sebelah. Tentulah amat berat.
Tahun 1994 kami mudik ke kampung halaman….
Usiaku sudah 6 tahun. Dan hari itu, Senin 20  Juni, saya dimasukkan ayah ke SDN 48 Batu Taba. Sebuah sekolah negeri lokal di tempat kami.
Oh ya.. saat pertama kali menginjakkan kaki di kampung halaman, masih saya ingat betapa canggungnya saya berada di sini. Jalanan masih belum beraspal, dimana-mana ada sawah, hutan pun tak jauh dari sini. Tempat ini membuat bulu kuduk berdiri.
Di Lamno, kami tinggal tak jauh dari jalan raya yang menghubungkan Lamno dan Ibukota Aceh. Di depan rumah kami ada sebuah SMA Negeri dengan bangunannya yang besar. Di sebelahnya, ada pula SPBU. Di belakang rumah kami, hanya sepelemparan batu, juga ada sebuah pasar tradisional.
Kami pun tinggal tak jauh dari pantai. Saat suasana hening, masih terdengar debur ombak memecah pantai. Tempat tinggal kami yang lama ini jauh lebih modern dari yang sekarang. Apalagi, kami tinggal di  kota Kecamatan yang ramai.
Di Cangkiang atau kampung halaman, kami tinggal di rumah yang sedang dalam proses pembangunan. Dindingnya belum diaci, jendelanya belum ada kaca. Sebagai gantinya, ditaruhlah triplek tipis agar tak masuk angin. Rumah kami betul-betul jelek.
Kampung yang saya tinggali ini betul-betul udik. Di depan rumah, berdiri teguh gunung Marapi yang legendaris itu. Luar biasa kekar. Dari jauh terlihat puncaknya yang gundul akibat terlalu sering erupsi.
Berbeda dengan sekarang, saat itu Marapi sering meledak. Acap kali setelah meledak, abu-abunya jatuh ke atap hingga terdengar seperti bunyi orang tengah menggoreng. Itu sering terjadi. Saya tak suka dengan tempat ini.
Beradaptasi dengan lingkungan ini jelas sulit sekali. Yang paling sulit yakni faktor bahasa.
Masyarakat maupun anak-anak sebaya, umumnya selalu menggunakan bahasa Minangkabau untuk berbicara. Sedangkan saya, tak sepatah kata pun mengenal bahasa ini. sejak pandai berbicara, saya hanya bisa bicara bahasa Aceh.
Terpaksalah jika ingin ngomong memakai bahasa Indonesia. Itu pun hanya sepatah-patah saja. Tak ayal, kelas 1 SD saya tak punya banyak teman.
Aku termasuk anak pintar. Sejak kelas 2-6 SD, jika tidak juara 1, maka posisi 2 selalu jadi kepunyaanku.
Kelas 6 SD, Ayah memindahkanku ke SDN 27 Cibuak Ameh karena adanya faktor rayon. Jika saya tetap di SD lama, kemungkinannya saya sulit bersekolah di SMP Favorit.
Di sini, lagi-lagi harus beradaptasi lagi. Tapi tak ada masalah.
Dan di sini, saya meraih prestasi gemilang dengan juara cerdas cermat tingkat Kecamatan pada lomba bidang studi IPS. Di tingkat Kabupaten Agam, saya hanya berhasil meraih juara 3.
Saya tamat SD dengan nilai NEM (Nilai Ebtanas Murni) 44,82 atau rataan 8,88. Nilai tertinggi ke-lima di Kecamatan. Atas nilai ini, saya bisa mendaftar di sekolah favorit saat itu, SLTPN 1 Ampek Angkek Canduang (2000/2001) dan ayah amat bangga dengan hal ini.
Hanya setahun saya di sini. Naik kelas 2, saya terpaksa pindah karena sekolah yang lama ini amat sulit transportasinya. Terutama saat pulang, angkot sangat susah. Tak jarang, saya harus jalan kaki 5 km untuk pulang.
Saya pindah ke SLTPN 7 Bukittinggi. Walau nilai saya di sekolah lama tak terlalu tinggi, nyatanya untuk sekolahku yang baru ini sudah dianggap baik. Buktinya saya ditempatkan di lokal unggul.
Seiring perjalanan waktu, entah kenapa di sini perangai burukku mulai kelihatan. Saat kelas 3, saya sering bolos. Bermain playstation dan baca komik mulai menjadi hobiku hingga mengakibatkan saya kehilangan waktu belajar.
Nilai-nilai mendadak anjlok. Padahal sebentar lagi ada UAN. Saya bolos hampir setiap hari. Hingga suatu ketika, wali kelasku Bapak Vulmar Butar-Butar datang mencariku ke rumah. Di sini, kedokku terbongkar. Ayah  marah besar. Kekesalan ayah bertambah saat tahu jika uang SPP selama 11 bulan sudah kuhabiskan untuk bermain game.
Aku tak lulus ujian akhir dan ayah terkena stroke akibat memikirkan anak yang dulu jadi kebanggaannya…..
Untungnya saat itu ada ujian ulangan bagi siswa yang tak lulus hingga bisa juga saya dapat ijazah SLTP itu walau tak bisa lagi menempuh SMA Negeri karena terlambat mendaftar.
Keinginan saya hanya sekolah SMA. Tapi pendaftaran sudah tutup dimana-mana. Terpaksalah saya mendaftar di sekolah swasta di SMK EL Telkom Bukittinggi (entah masih ada sekolahnya?).
Jurusan saya, electro. Sama sekali bukan keinginan saya. Hingga, kenakalan ku mencapai puncaknya. Saya mulai mengenal rokok dan tetap membolos…
Semester pertama, hanya ada 2 mata pelajaran nilaiku yang hitam. Selebihnya merah…
Ayah bertambah berat penyakitnya dan akhirnya meninggal pada tahun 2004.
Ibu memanggilku. Dia bertanya mau apa saya sekarang.
“ Wak ndak nio sikolah lai do” kataku.
Akhirnya, selamat tinggal tut wuri handayani……………..
Bisa dibayangkan pandangan masyarakat saat itu karena profil demografiku anak dari guru, otak encer dan punya biaya tapi tak mau bersekolah…………..
Selepas berhenti sekolah, kegiatanku hanya tidur di siang hari dan begadang di malam hari. Itu saja.
Bosan, saya pindah selama 6 bulan ke tempat Bako (kampung ayah) di Lintau. Di sana saya menghabiskan waktu sebagai pengumpul pinang muda. Pak Etek membeli pinang-pinang muda untuk dijual ke pengepul. Tugas saya membuka, mengiris, dan menjemur pinang itu hingga kering.
Saat harga pinang menukik turun, otomatis pekerjaan ini tak bisa dilanjutkan lagi. Saya kembali ke kampung halaman.
Walau status ekonomi keluarga saya cukup lumayan untuk kategori orang kampung, namun saya bukanlah orang yang mengagungkan gengsi. Bahkan tak punya rasa malu.
Kembali ke kampung, saya mulai mencari pasir di kali. Pekerjaan ini luar biasa beratnya. Saya hanya mampu bertahan selama dua minggu dengan hanya menghasilkan uang sebesar 20 ribu saja.
Selepas itu, saya bersama dua orang lainnya di ajak oleh Senior di Kampung (sekarang dia sudah jadi pengusaha sukses) untuk membantu temannya yang punya pencucian mobil di Dharmasraya sana. Saya ikut dengan ini.
Hanya saja saya cuma sanggup selama satu minggu saja.
Kembali ke kampung,, tak banyak yang bisa dilakukan lagi hingga ada tawaran kerja bangunan di Bukittinggi. Ya, saya ikut kerja kuli membangun Pustaka Bung Hatta. Ini cukup lama saya ikuti. Kalau tidak salah ada sekitar beberapa bulan. Upahku sehari sebagai kernet tukang mencapai Rp,35.000 per-hari dengan jam kerja mulai dari pukul 08.00-16.00 wib.
Habis masa bertukang, saya mulai jadi pedagang piring melamin keliling. Ini pekerjaan yang amat mengasikkan karena bisa mengunjungi berbagai wilayah di seantero Luhak Nan Tigo (Agam, Tanah Datar dan Limapuluh Kota).
Saat itu, saya hapal dimana dan kapan waktu pasar di sebuah wilayah. Dengan membawa motor Astrea Grand milik Ayah dahulu, setiap pagi bersama rekan yang lain saya membawa dua karung besar piring plastik itu untuk dijajakan ke pasar-pasar.
Penat berjualan, bersama sahabatku Hendra, saya pergi merantau ke Jakarta. Tak tahan karena kerasnya Ibukota, saya pulang kampung lagi.
Di sini, saya menjadi tukang ojek. Lama sekali, ada dua tahun mungkin.
Saya termasuk tukang ojek paling kaya saat itu. Di masa itu, yang punya sepeda motor belumlah beberapa. Ditambah lagi, angkot jarang masuk ke kampung hingga profesi ini amat menjanjikan.
Saya punya langganan cukup banyak. Saat hari Rabu dan Sabtu (Hari pasar Aur Kuning) dari jam 5 shubuh saya sudah “ Narik”. Pembawaan saya yang ramah dan hati-hati membawa motor menyebabkan saya kebanjiran pelanggan. Dari pagi hingga jam 10 siang, tak kurang duit 50 ribu sudah ditangan.
Berbeda dengan ojek lain yang menerapkan setoran untuk kredit, motor saya sudah lunas. Jadi tak ada menyisihkan uang untuk kredit.
Tak lama kemudian, ojek mulai tergeser keberadaannya karena factor orang semakin banyak punya kendaraan. Akhirnya, saya banting stir jadi kuli lagi. Kebetulan waktu itu di kampung ada proyek PNPM. Saya ikut hingga beberapa waktu. kemudian saya juga sempat bekerja sebagai tukang galon air selama beberapa waktu.
Semuanya berlalu seperti biasa hingga suatu ketika saya lewat dan anak orang tua yang memarahi anaknya berkata,” Ka Jadi apo ang kalau indak basikola??? Ka mode si Jal tu ang???” batinku tertekan mendengar perkataan ini.
Ya, meski kampung kami kecil. Namun tingkat pendidikan di sini cukup tinggi. Sarjana bertebaran di sini. Ini membuat hatiku sakit.
Tahun 2009, saya nekad mengambil paket C. setahun kemudian saya lulus dan mendaftarkan diri di Fakultas Pariwisata UMSB.
2015, saya menjadi Sarjana Pariwisata  pertama (mungkin) dalam sejarah kampung.
Sekarang setiap senin pagi jam 09.00, anda akan melihat saya di gedung DPRD Bukittinggi mengepit Koran untuk diantarkan ke Anggota Dewan. Ya, saya seorang tukang loper sekarang…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar