Senin, 21 Desember 2015

penakluk beruang dari bukittinggi



Padil, Si Penakluk Beruang
Tak banyak orang yang mau menghabiskan hidupnya untuk merawat hewan liar. Selain gaji yang tidak jelas, resiko terluka bahkan terbunuh jelas mengintai setiap saat. Tak ada yang dapat memprediksi perilaku buas dari satwa itu
Hal ini tak berlaku bagi pemuda asal Belakang Balok, Padil (20), rela menghabiskan masa mudanya demi merawat dan mengasuh dua ekor anak beruang madu di pusat penangkaran Taman Marga Satwa Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi.
“ Saya sadar akan bahaya merawat beruang ini, tapi ketertarikan terhadap satwa yang begitu tinggi mengalahkan segalanya,” kata Pria yang tengah cuti kuliah itu. Selasa (15/12).
Di penangkaran, Padil dibantu rekannya Nur, harus merawat dua ekor anak beruang berusia sekitar delapan bulan. Meski yang diurus hanya anak beruang, namun jangan ditanya kesukaran yang dihadapi.
“ Terkadang saya dicakar beruang ini, tapi belum pernah terluka serius,’’ katanya sambil menyuapi beruang madu berkelamin wanita itu.
Beruang Madu ini didapatkan pengelola TMSBK dari masyarakat karena terpisah dari induknya. Saat ditemukan, kondisi hewan ini sempat memburuk dan badannya kurus. Berkat tangan dingin Padil, secara perlahan kesehatan beruang itu dapat dipulihkan hingga sehat seperti sediakala.
Satwa yang dilindungi ini tampak begitu tergantung pada Padil. Mulai dari makan hingga bermain, spesies terkecil dari jenis beruang yang ada di dunia ini tak lepas dari pantauannya.
Jika bosan, sekali-kali Padil membawanya ke luar dari kandang. Beruang itu langsung menghampirinya untuk sekedar bergayut mesra di pundak pemuda berkulit terang itu.
“ Menghadapi binatang buas, kuncinya hanya satu yakni tak boleh ada rasa takut. Jika takut, kita akan diserang,” katanya sambil menggendong beruang bernama Gaston itu.

Melihat ia merawat beruang ini memang bikin bulu kuduk berdiri. Karena, jika rewel, Padil tak segan-segan menggelitik, menggendong bahkan memasukkan jarinya ke dalam rahang salah satu hewan berbahaya itu.
Padil belum lama di sini. “ Saya baru sekitar tiga bulan bekerja di TMSBK. Sejak cuti kuliah,’’ ungkap pemuda bernama lengkap Phadlilla Nabhani tersebut.
Keluarganya sempat khawatir dengan profesinya yang ekstrem itu. Tapi, dengan bermacam trik, ia berhasil meyakinkan keluarganya jika pekerjaannya itu merupakan sebuah hal yang mulia.
“ Jarang ada yang mampu mengerjakan tugas semacam ini,” tambahnya sembari menuangkan susu ke hewan yang jadi tanggungannya itu.
Selintas, Padil kelihatan profesional sekali dengan tugasnya itu. Padahal, aku Padil, sama sekali sebelumnya ia tak dibekali pelatihan mengenai metode merawat beruang. Ia hanya mengandalkan keberaniannya untuk membangun hubungan emosional dengan satwa ganas itu.
“ Saya hanya pernah merawat beruang saja. Kedepan, semoga saya bisa merawat harimau maupun singa,” tuturnya tanpa rasa takut.
Usia dua ekor beruang yang dirawat Padil belumlah genap setahun, semakin dewasa, jelas beruang ini akan semakin sulit diatur dan kian berbahaya.
Kepala Bidang TMSBK, Ikbal, mengapresiasi kinerja yang ditunjukkan Padil. “ Tak banyak sukarelawan seperti Padil. Semoga ini jadi inspirasi bagi masyarakat lainnya.
ojha (RRI), dengan berani ikut memeluk beruang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar