Kamis, 17 Desember 2015

rumah bung hatta



Ada Kebanggaan Di Rumah Hatta


Hanya bunyi klakson kendaraan dan derap bendi yang mengusik lamunannya saat wanita tua itu melaksanakan tugasnya merawat rumah kelahiran Proklamator Hatta. Ini sudah dilakukannya sejak puluhan tahun silam tak peduli panas maupun hujan.
Ibu Dessi Warty, 57 tahun, sudah sejak tahun 96 mengabdi dengan ikhlas di rumah sederhana yang terletak tak jauh dari Simpang Mandiangin itu.
Awalnya Ia keberatan jika kisahnya dimuat di Koran,” Saya pikir tak perlu dimuat di Koran karena ini hanya tanggung jawab. Kenapa pula anda harus risau jika saya sudah lama di sini?” tanyanya pada wartawan sambil tertawa kecil.
Hanya dengan imbauan jika dedikasinya bisa jadi inspirasi bagi warga kota lainnya, Dessi mau bercerita dan berharap ada generasi penerus yang mengikuti jejaknya.
“ Saya sudah bekerja bagi Pemerintah Bukittinggi sejak 85. Awalnya di Dinas Lingkungan Hidup lalu pindah di tahun 96,” kenangnya.

“ Sejak bekerja, status saya masih honor. Mungkin karena hanya tamat SMA” Ia tersenyum.
Walau statusnya hanyalah tenaga honorer dengan gaji tak seberapa, Dessi merasakan kebanggaan tersendiri membersihkan berbagai ruangan di rumah nan sederhana itu. Dessi pun mengaku ada ketenteraman tersendiri yang dirasakannya.
“ Bagi saya dan rekan-rekan yang lain, ini adalah kebanggaan karena kami merawat rumah orang yang teramat penting bagi Negara kita.”ujarnya merasa bangga.
Selain itu, Ibu empat anak tersebut mengaku jika rumah Hatta ini biasanya sering dikunjungi pejabat penting dari pusat. Teranyar, rumah ini dikunjungi oleh Presiden Jokowi bersama beberapa menterinya ditemani oleh Meutia Hatta beberapa waktu lalu.
“ Sempat saya bersalaman langsung dengan Jokowi. Sebelumnya, Ibu Meutia berucap pada Jokowi jika saya sudah bekerja hampir 20 tahun mengurus  rumah ini. Jokowi terkejut dan berharap jika saya bisa terus mengabdi di sini.”kenangnya sambil mengisi buku register tamu.
Di sini, Dessi bekerja bersama tiga rekannya yang lain. Tugasnya membersihkan dan merawat tiap sudut ruangan yang ada. Selain itu, jika ada tamu yang berkunjung, Dessi tampak amat bersemangat menjelaskan serta mengantarkan tamu tersebut menjelajahi rumah mungil nan sederhana yang kondisinya masih asli dan tak boleh diubah ini.
“ Di sini, kita bisa berinteraksi dengan semua orang,” katanya berbinar-binar.
Berbeda dengan kebanyakan pegawai lainnya, Dessi tak punya hari libur. Meski kalender merah, Ia tetap melakukan aktifitasnya seperti biasanya dengan status lembur
“ Lepas Sholat Idul Fitri, saya bergegas ke sini demi melaksanakan kewajiban. Sudah lupa kapan terakhir lebaran di rumah sendiri. Karena itu, rumah Hatta saya anggap saja seperti rumah sendiri,” gumamnya tertahan
Jam kerjanya pun tergolong lama dibanding pegawai lainnya. PNS lain harus masuk kantor jam 08.00 pagi hingga 16.00 sore. Sedangkan Dessi sudah ada di Rumah dengan ukuran bangunan 440 meter itu sejak jam 07.30 pagi. Pulangnya jam 17.30 sore.
“ Pengunjung di sini kebanyakan datang berombongan. Jika ada yang datang jam 07.00, saya akan tiba lebih awal. Saat Pak Presiden di sini, sejak jam 05.00 Subuh saya di sini,” tambahnya.
Sekarang Ia sudah berusia kian senja. Tampaknya ia sudah pasrah jika statusnya tak berubah dan tetap jadi honor sepanjang karirnya. Kendati demikian, Dessi tetap berharap di sisa pengabdiannya statusnya dapat terangkat.
“ PNS masih tetap saya dambakan. Jika tidak, saya mau bilang apa. Yang jelas, PNS maupun tidak itu adalah yang terbaik. Yang penting, tetap ikhlas. Rezeki ada yang mengatur. Bagi saya, merawat rumah Hatta adalah sebuah berkah,” tutur Wanita yang tinggal di Kelurahan Tangah Sawah itu.
Dibalik sikap lembut khas keibuan, wanita tua ini berprinsip teguh jika tanggung jawab adalah amanah yang harus dipikul tanpa berharap berlebihan.
Memang, tak ada yang istimewa dari rumah ini. Isinya hanya perabotan tua, potret usang dan kamar kosong tak berpenghuni. Tapi dibalik kesederhanaan itu tercermin pribadi seorang Hatta  ada dalam sosok Dessi Warty yang tak banyak menuntut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar