Senin, 11 Januari 2016

Jangan Menyerah



Bangkit Dari Segala Ketidakmungkinan
uni ria dengan kursi rodanya

Hidup dalam keterbatasan biasanya akan membuat sebagian orang patah semangat. Tapi, hal ini tak berlaku pada Ria (34). Ia tetap dapat berkarya meski tengah berada di kursi roda, membuat rendang untuk pesanan pelanggan. Kendati hal ini cukup menimbulkan rasa kasihan, namun ia enggan menebar iba. Malah merasa bersyukur atas kejadian yang dialaminya.
Ria sempat frustasi atas kejadian buruk yang menimpanya dan sempat mencoba mengakhiri hidup ,“ Dari pada jadi beban, lebih baik saya bunuh diri” kenang Ria sambil menyeka air matanya yang jatuh tak tertahankan.
Hal ini nyaris dilakukannya jika tidak teringat ketulusan hati keluarga yang telah merawatnya dengan penuh kasih saat Ria terbaring tanpa daya di rumahnya yang berlokasi di Jln Bahder Johan Pasar Pagi, Kelurahan Puhun Tembok.
Semuanya diawali akibat kecelakaan yang dialami Ria pada 2003 silam. Mobil yang ditumpanginya bertabrakan dan menyebabkan Ria harus diopname karena menderita luka patah tulang punggung.
“ Efek tabrakan itu, tubuh menjadi lumpuh setengah badan. Dari punggung ke bawah, tak dapat digerakkan. Syaraf motoric saya, hancur.” lanjutnya saat dikunjungi Indonesia Raya belum lama ini.
Sebenarnya, efek tubrukan  tak akan sedahsyat ini jika Ria memiliki uang untuk biaya operasi. “ Biayanya sekitar 48 juta sekali operasi. Untuk memulihkan kondisi, harus dilakukan sebanyak enam operasi. Dari mana uang sebanyak itu akan dicari? Sedangkan kami hanya keluarga sederhana, bahkan Ayah juga sudah meninggal.” kata sulung dari lima bersaudara itu.
Akhirnya, setelah melakukan pengobatan seadanya, Ria dibawa pulang. Dari situ semua penderitaan dimulai.
“ Dulunya saya adalah orang yang aktif. Bahkan cenderung usil. Saat itu, saya hanya bisa terbaring selama 3 tahun dan jadi beban bagi semua orang. Jujur, saya begitu frustasi,” ujarnya menyeka air mata mengingat peristiwa yang mengubah hidupnya itu.
Dorongan keluarga membuatnya mampu bertahan. Tak hanya itu, Ia juga mendapat motivasi bangkit karena melihat tayangan inspiratif di salah satu stasiun tv lokal.
 “ Saya tak mau jadi beban, tak mau lagi mengeluh dan saya putuskan untuk bangkit daripada hanya menjadi putri tidur,’’.
“ Si Adik saya suruh untuk merantau daripada mengurus saya. Lalu, saya memulai bisnis kecil-kecilan yakni berdagang pakaian dan kain sprei lewat sistem on line serta sejak 2014 lalu, saya memakai kursi roda.“ cerita Ria saat mengawali bisnisnya itu.
Tak menguntungkan, Ria putar otak mencari lahan pemasukan lainnya. Kepandaian Ibu dalam memasak masakan tradisional seperti rendang, membuat Ria yakin hal ini berpotensial mendatangkan pemasukan. Apalagi, tren rendang cenderung menanjak akibat dinobatkannya masakan khas Minang ini sebagai salah satu masakan terenak di dunia.
Sekarang, wanita yang lumpuh setengah badan itu terlihat bersemangat mengaduk-aduk kuali yang dipenuhi bermacam rempah-rempah.
Ia amat sibuk, terkadang tergopoh-gopoh kesana kemari mengambil bumbu penyedap agar adonannya segera menjadi rendang yang menggugah selera.
Sehari lagi, rendang itu harus diantarkan ke pelanggan asal Malaysia yang kebetulan tengah melewatkan liburan di kota Bukittinggi.
“ Dalam satu minggu, rendang ini sudah laku sebanyak 12 kilo. Satu kilo harganya 250 ribu, keuntungan bersihnya sekitar 50 ribu perkilo. Rendang buatan saya, diberi box yang kokoh sehingga tak akan belepotan saat sampai di pelanggan” ungkapnya.
Ditengah segala keterbatasannya, Ria adalah pedagang masa kini. Memanfaatkan situs jejaring sosial untuk memasarkan produk khas Minangkabau yang diberi nama Randang Rang Bukik.
Tak pernah saya menyesali semua yang telah terjadi. Semua sudah suratan. Sekarang, saya sudah bangkit dan punya bisnis ini. Ke depan, semoga bisnis ini tetap berkembang sehingga saya bisa merasa berguna bagi orang lain. Kuncinya satu, jangan menyerah,” pesannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar